AS dan Israel Cemas Jika Suriah Rebut Kembali Dataran Tinggi Golan

Ar | Selasa, 24 April 2018 - 09:08 WIB
AS dan Israel Cemas Jika Suriah Rebut Kembali Dataran Tinggi Golan

Oleh Dasman Djamaluddin

Kemenangan pasukan Suriah mengusir gerilyawan Negara Islam di Suriah, sekaligus mampu mencemaskan pasukan koalisi Amerika Serikat (AS)  di negara tersebut, sudah tentu awal kekalahan AS di Timur Tengah.

Bahkan Presiden AS Donald Trump menginginkan pasukannya ditarik dari Suriah mengingat besarnya biaya yang dikeluarkan dalam perang di Suriah. Sebaliknya Arab Saudi sekutu AS berpikir sebaliknya. Negara itu minta agar AS membatalkan niatnya. AS menjawab, baiklah, tetapi asal biaya perang selama di Suriah ditanggung oleh Arab Saudi.

Tidak jelas komitmen antara AS dan Arab Saudi, pun tidak pula menjamin serangan pesawat tempur AS, Inggris dan Prancis baru-baru ini, yang patut diamati perkembangan di Suriah terakhir ini, negara itu ingin kembali merebut Dataran Tinggi Golan dari tangan Israel.

Suriah sekarang merasa mampu merebutnya kembali Dataran Tinggi Golan, berkaca dari dukungan Iran dan Rusia ketika merebut kembali wilayah yang diduduki gerilyawan Negara Islam di Suriah. Oleh sebab itu, fokus Suriah sekarang ingin merebut kembali wilayah Dataran Tinggi Golan dari Israel.

Dataran Tinggi Golan adalah wilayah Suriah yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Waktu itu terjadi perang antara Negara Arab melawan Israel, setelah negara Yahudi tersebut menyatakan kemerdekaannya. Negara Arab, terdiri dari Mesir, Suriah, Irak, Jordania menyerang Israel. Pasukan Arab kalah, Dataran Tinggi Golan direbut Israel. 

Pada Perang Yom Kippur tahun 1973, Suriah berhasil merebut kembali Dataran Tinggi Golan. Tetapi, serangan balik Israel berhasil mengusir pasukan Suriah dari sebagian besar Dataran Tinggi Golan.

Wilayah Dataran Tinggi ini sangat strategis, sekarang pasukan Israel (lihat foto) bisa memantau gerakan pasukan Arab dari atas. Ada dua bukit yang sangat strategis, disebut bukit Hermon dan Booster. Kedua bukit ini disebut "Mata Israel," karena dari bukit tersebut, pasukan Israel memantau seluruh perkembangan di bawah bukit.

Militer Israel hari Senin, 23 April 2018, memberitahu bahwa memang ada serangan mortir Suriah ke Dataran Tinggi Golan di dekat perbatasan utara wilayah itu.

Ketakutan Israel sudah sejak lama terjadi ketika Suriah kembali menguasai negaranya. Israel bahkan ikut menyerang berkali-kali di perbatasan. Bahkan Damaskus menuduh
Israel dan Barat bersekutu dengan kelompok teroris di Suriah. Bagaimanapun situasi di Suriah dengan melibatkan Israel, bertambah rumit.