Usaha Kudeta di Arab Saudi dan Munculnya Kembali Perang Dingin

Ar | Minggu, 22 April 2018 - 10:58 WIB
Usaha Kudeta di Arab Saudi dan Munculnya Kembali Perang Dingin

Oleh Dasman Djamaluddin

Pagi ini, Minggu, 22 April 2018, Pemerintah Iran yang dikuatkan kantor berita asing lainnya mengatakan, situasi di Arab Saudi sedikit gaduh dan terjadi beberapa kali tembakan ketika sebuah drone mendekati istana raja. Drone tersebut berhasil ditembak jatuh. 

Raja Arab Saudi Salman ketika itu tidak berada di istana. Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa raja dievakuasi ke Pangkalan Udara "Raja Khaled." 

Bahkan ada yang mengkaitkan situasi ini berkaitan dengan perombakan di berbagai bidang oleh raja. Bisa juga dikaitkan dengan semakin memanasnya perbatasan Arab Saudi dengan Yaman, karena perkembangan terakhir mengatakan bahwa gerilyawan Houthi yang didukung Iran sering melancarkan serangan memasuki wilayah Arab Saudi.

Perkembangan di Arab Saudi semakin cepat berkembang dikarenakan negara ini tidak hanya terlibat perang di perbatasan dengan Yaman, juga di  Suriah. Bahkan negara kaya minyak yang didukung Amerika Serikat (AS) ini meminta pasukan AS jangan keluar dari Suriah. Jawaban AS sangat sederhana, "baiklah asal segala pembiayaan," pasukan AS di Suriah dibiayai sepenuhnya oleh Arab Saudi.

Akhir-akhir ini pasukan Suriah yang didukung Iran dan Rusia memenangkan berbagai pertempuran, baik dengan pasukan Negara Islam di Suriah, maupun dengan pasukan AS dan sekutunya yang sejak awal menginginkan Presiden Suriah Bashar al-Assad terguling sebagaimana tergulingnya pemerintahan Presiden Irak Saddam Hussein.

Presiden Rusia Vladimir Putin pernah mengatakan, Perang Dunia III bisa saja muncul di Suriah, karena berbagai persenjataan mutakhir AS dan Rusia sudah didatangkan ke kawasan tersebut. Apalagi setelah serangan udara AS, Inggris dan Prancis ke Suriah baru-baru ini, pasukan Rusia sudah mengirimkan penangkal senjata nuklir. Ini semua menggambarkan betapa ketegangan di Suriah bisa meluas ke Yaman dan akhirnya ke Arab Saudi, sekutu AS.

Para diplomat moderat di Iran mengatakan, hubungan AS dan Rusia ini bisa memunculkan Perang Dingin. Itulah hasil yang diperoleh Kantor Berita Iran Khabar Online ketika berdiskusi mengenai perkembangan terakhir dengan Profesor Vahid Gharavi.

Dalam diskusi itu sang profesor mengatakan masa lalu dua kekuatan AS dan Rusia bisa memunculkan Perang Dingin, sebagaimana di Duma, Suriah. AS telah menuduh Suriah memakai senjata kimia. Sedangkan Iran yang mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad meminta PBB juga memeriksa AS dan sekutunya. Boleh jadi merekalah yang menggunakan senjata kimia di Suriah.

"Saya percaya akan terjadi Perang Dingin II sebagaimana Perang Dingin I tahun 1947, " ujarnya.

Bagaimanapun pemihakan Arab Saudi ke AS sungguh mengherankan di mata beberapa negara Arab lainnya. Sementara AS tetap memakai standar gandanya kepada negara bersangkutan. Sebagai contoh, ketika Arab Saudi ingin meminta AS mendukungnya mengembangkan senjata nuklir seperti Iran, Israel sekutu AS tidak setuju.

Kedekatan Arab Saudi ke Israel pun jadi tanda tanya, sehingga menyulitkan negara itu mendukung perjuangan bangsa Palestina. Pangeran Arab Saudi, Muhammad pernah salah berkomentar tentang Palestina, yang menganggap hak bangsa Yahudi dan Palestina sama. Raja Arab Saudi Salman cepat-cepat meralat, bahwa Jerusalem adalah hak bangsa Palestina untuk menjadikannya sebagai ibu kota.

Situasi bisa saja berkembang. Tetapi sekarang info dari Arab Saudi pasti sulit dijangkau.