Profesionalisme PSSI Dipertaruhkan

Protes Wasit Terindikasi Curang, Bhayangkara FC Justru Dikenai Sanksi

Fer | Sabtu, 21 April 2018 - 18:19 WIB
Protes Wasit Terindikasi Curang, Bhayangkara FC Justru Dikenai Sanksi Sumardji (tengah)

JAKARTA (wartamerdeka)  - Luapan protes terhadap wasit Liga 1, yang dinilai tidak becus saat memimpin pertandingan, justru menuai sanksi bagi Manajer Bhayangkara FC AKBP Sumardji. Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan denda Rp25 juta kepada Bhayangkara FC. Profesionalisme PSSI dipertaruhkan. 

Keduanya dikenai sanksi usai melakukan protes kepada wasit. Sumardji dan Simon McMenemy menganggap wasit berat sebelah karena tidak menunjuk bola di titik finalty saat terjadi hand ball yang dilakukan seorang pemain Perseru Serui. 

Sepakan Paulo Sergio mengenai tangan Boman Bi Arie dan Kunihiro Yamashita. "Yamasita menahan bola dan Boman juga sama menahan bola pakai tangan. Saya protes karena wasit yang memimpin pertandingan tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan benar, karena seperti dalam video ini sangat jelas sekali hand ball 2 kali dbiarkan," terang Sumardji menjelaskan perihal protesnya kepada wartamerdeka, Sabtu (21/4/2019) dalam percakapan via WhattsApp.

Karena tak ada sanksi dari wasit, Sumardji dan Simon McMenemy protes dengan menendang botol di pinggir lapangan yang berujung dengan sanksi Komdis PSSI. "Bagaimana Yamashita menahan bola dan Boman yang sama menahan bola pakai tangan. Haruskah (kecurangan) seperti ini dibiarkan?" ujarnya dengan nada bertanya.

Sumardji menilai wasit tidak becus menjalankan tugasnya. "Posisi wasit ada di samping Yamashita kalau matanya tidak lihat, kan aneh," tegasnya. 

Sumardji yang berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi ini juga melihat gol yang diciptakan pihak lawan berbau offside. "Tapi saya diam tidak protes, karena saya paham kalau ke pihak Serui memang wasit takut sama tuan rumah," jelas Sumardji.

"Untung saya punya feeling, kalau saya tidak punya rekamannya, kan dikira saya protes tidak mendasar. Saya ada rekamannya," ujarnya.

Sumardji berharap pembenahan mental wasit lebih diutamakan agar pertandingan sepakbola berjalan fair play. Wasit yang tidak live harus benar-benar wasit yang punya integritas dan keberanian mengambil keputusan yang tepat dan benar. Jangan malah kalau tidak live menunjuk wasit yang belum jelas kwalitasnya," ucap Sumardji.

Kendati protesnya tak digubris dan dirinya justru dikenai sanksi ileh Komdis PSSI, Sumardji mengaku tidak kecewa. Sumardji menyatakan dirinya akan terus berjuang memperbaiki kualitas dan eksistensi Bhayangkara FC lebih baik lagi.

"Saya tetap akan pada karakter saya selalu protes keras kepada wasit yg memimpin pertandingan, yang tidak punya integritas dan tidak punya keberanian mengambil keputusan yang benar. Buat saya ini adalah perjuangan dan konsekuensinya saya siap diberikan sanksi," tegasnya.

Meski dikenai sanksi terkait sikap protesnya, ayah dari empat anak ini mengaku tidak kapok. Baginya, memprotes demi kebenaran adalah cara untuk membenahi sepakbola di tanah air agar bisa makin baik. "Selama saya di bola saya paling sering kena sanksi karena saya tidak mau bola di Indonesia hancur gara-gara kelakuan oknum wasit yang gak bener jalankan tugasnya," ujarnya.

Menurut Sumardji, profesionalisme seorang wasit menjadi salah satu faktor menentukan maju tidaknya sepakbola di tanah air. "Yang terjadi selama ini tensi jadi naik bukan tekhnik dan taktik maun bola, tapi adu jotos yang terjadi," imbuhnya dan berharap kritiknya bisa membuka mata para pecinta sepakbola di tanah air.