Siapakah yang Teroris, Israel atau Palestina?

Ar | Sabtu, 21 April 2018 - 09:23 WIB
Siapakah yang Teroris, Israel atau Palestina?

Oleh Dasman Djamaluddin

Perkembangan di wilayah Jalur Gaza setiap selesai sholat Jumat, terus menimbulkan korban di pihak warga Palestina. Sekurang-kurangnya empat warga Palestina tewas ditembak pasukan Israel dan berpuluh-puluh lainnya mengalami luka-luka.

Setiap selesai sholat Jumat, penduduk Palestina yang mayoritas Muslim melakukan unjuk rasa sejak 30 Maret 2018 dan jika dijumlah sudah ada 34 warga Palestina yang tewas di Jalur Gaza dan puluhan lain luka-luka. Memang aksi ini akan dilakukan warga Palestina di Jalur Gaza hingga Mei 2018 bertepatan dengan upaya bangsa Yahudi  mendirikan negara Israel, meski berdiri di tanah Palestina.

Ketika negara Israel berdiri, sekitar 760.000 warga Palestina, sekarang diperkirakan mendekati  lima juta terusir dari wilayahnya sendiri. Karena sejak 14 Mei 1948, Israel menyangkal wilayah yang didiami Israel sekarang adalah wilayah rakyat Palestina yang sudah dirampas. Ini bertentangan dengan Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar Israel mundur dari wilayah Palestina yang diduduki.

Ketika mengamati perkembangan baru di Jalur Gaza ini, saya sedang membolak balik lembaran 131 halaman pada laporan "Terrorist Group Profiles," yang dikeluarkan Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan ditandatangani George Bush, pada waktu itu masih menjabat wakil presiden. Pun ditandtangani Menteri Pertahanan AS waktu itu, Frank C Carlucci.

Mengherankan di dalam buku ini, terdapat tidak kurang 12 organisasi Palestina dan dikategorikan sebagai teroris. Sudah tentu Israel yang sering membunuh warga Palestina tidak ada di dalam buku tersebut. Sementara pasukan Israel yang sering menembak warga Palestina tanpa senjata dan selalu tanpa senjata. Gerakan mereka disebut intifada, karena melawan pasukan Israel dengan melempar batu atau melontarkannya dengan katapel.

Di buku ini organisasi Palestina yang dikatakan teroris mulai dari Organisasi Abu Nidal (ANO) hingga kelompok Sa'iqa, dan yang mengherankan termasuk kelompok Fatah pimpinan Yasser Arafat. Dijelaskan bahwa Fatah tidak dapat dipisahkan dari gerakan "Black September," tahun 1971 hingga 1974. Memang laporan ini sangat keluru. Sekarang terlihat AS menganggap gerilyawan Palestina di Jalur Gaza yang teroris. Sementara yang di Tepi Barat, di mana asal muasalnya dari PLO pimpinan Yasser Arafat selalu diajak berunding, sekaligus diakui sebagai satu-satunya wakil sah rakyat Palestina.

Kerancuan data di buku tersebut, yaitu dengan semakin akrabnya kedua pemimpin Palestina di Tepi Barat, akhirnya menimbulkan pertanyaan, apakah bukan Israel yang dianggap teroris dan selalu membunuh warga Palestina yang tanpa senjata?

Secara keseluruhan, laporan tersebut tidak memberikan porsi yang seimbang buat negara-lain, yang dinilai pengamat luar (bukan penyusun buku ini) sebagai teroris, misalnya Israel. Laporan ini kurang memperhatikan obyektifitas dengan tidak menjelaskan, bagaimana sumbangan bagaimana terorisme Israel sebelum Israel merdeka. Padahal terorisme zionis berurat berakar disaat Palestina masih dalam jajahan Inggris.