Gerilyawan Houthi di Yaman Semakin Gencar Serang Arab Saudi

Ar | Jumat, 20 April 2018 - 11:39 WIB
Gerilyawan Houthi di Yaman Semakin Gencar Serang Arab Saudi

Oleh Dasman Djamaluddin

Tahun ke-4 perang di Yaman antara pendukung mantan  Presiden
Abd-Rabbu Mansour Hadi yang kini berada di Arab Saudi, dengan gerilyawan Houthi dukungan Iran, semakin terlihat mencemaskan.

Beberapa bulan ini, peluru kendali balistik gerilyawan Houthi sering memasuki wilayah Arab Saudi. Sudah tentu hal ini mencemaskan umat Islam Sunni yang berkeinginan naik haji ke tanah suci  Mekah beberapa bulan lagi.

Houthi dukungan Iran berkali-kali menyerang ke wilayah Arab Saudi. Berarti serangan tidak hanya ditujukan ke kelompok dukungan Arab Saudi di Yaman, tetapi sudah melintas batas memasuki negara Arab Saudi. Peluru kendali itu sudah menyasar ke Bandara Internasional Riyadh, di Provinsi Jizan, Arab Saudi. 

Sumber dari Houthi mengabarkan bahwa Bandara itu terbakar, meski sumber dari Arab Saudi belum berkomentar. Memang sejak Maret 2015,  pasukan Arab Saudi yang memimpin serangan beranggotakan beberapa negara tetangga lainnya menyerang gerilyawan Houthi  yang  mendukung Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh sejak Maret 2015. Tetapi ia tewas terbunuh dalam pertempuran di bulan Desember 2017.

Sekitar 10.000 orang tewas sejak terjadi konflik di  Yaman. Sebahagian besar di antaranya hilang. Pertempuran ini memunculkan konflik berkepanjangan antara Arab Saudi dengan gerilyawan Houthi dukungan Iran hingga memunculkan kekhawatiran dunia Islam, karena di Arab Saudi terdapat tempat suci ummat Islam Sunni, Mekah dan Madinah. Sebetulnya tidak hanya di Yaman saja, tetapi di Suriah juga sedang berlangsung pertikaian antara Arab Saudi didukung AS dan sekutunya dengan Pemerintah Suriah pimpinan Bashar al-Assad yang didukung Rusia dan Iran.

Munculnya Revolusi Islam setelah jatuhnya dinasti Shah Reza Pahlevi pada 11 Februari 1979, sekaligus mengakhiri pemerintahan monarkhi sejak tahun 1906. Dasar berpijak Revolusi Islam tidak bisa lepas dari figur kepemimpinan Ruhullah Khomeini, yang juga dianggap sebagai imam.

Struktur Imam dalam masyarakat Iran yang 93 persen menganut aliran Shiah (Syiah) merupakan panutan yang berlangsung turun temurun. Menurut mereka, meskipun imam-imam yang memimpin revolusi berusia lanjut, tetapi mereka adalah ulama berpikiran cemerlang dan kharismatik yang dengan pengaruhnya mampu memimpin rakyat dari sebuah tempat yang jauhnya ribuan kilometer.