George Galloway: Bangsa Palestina Harus Bersatu

Ar | Kamis, 19 April 2018 - 08:51 WIB
George Galloway: Bangsa Palestina Harus Bersatu George Galloway

Catatan Dasman Djamaluddin

George Galloway, siapa yang tidak kenal beliau. Salah seorang anggota dari Parlemen 
Inggris (Partai Buruh) selama hampir 25 tahun (1987-2010) di samping pekerjaannya sebagai penulis dan wartawan. Usia sekarang 63 tahun.  Lahir 16 Agustus 1954, tetapi ketika berbicara Palestina, semangatnya melebihi semangat anak muda. 

Baru-baru ini, George Galloway berbicara tentang masalah Palestina yang hingga sekarang belum juga berhasil mendirikan Negara Palestina merdeka, meski sudah memiliki perwakilan secara "de facto," di hampir 100 negara. Menurut Galloway, bangsa Palestina harus bersatu jika ingin meraih kemerdekaan.

Galloway mendirikan apa yang disebut organisasi "Viva Palestina." Menurut George Galloway, ia sangat peduli dengan kesengsaraan rakyat Palestina. Apalagi sebelum Fatah dan Hamas bersatu. Waktu itu warga Palestina terkepung dan terisolir di Jalur Gaza. Dia bangkit untuk menembus 
blokade Israel sejak pecah konflik setelah 
Pemilihan Umum di Wilayah Palestina, 25 Januari 2006.

Pada waktu ini Kelompok Hamas yang disebut garis keras Palestina memenangi pemilihan 
anggota Parlemen. Hamas berhasil menguasai 74 kursi legislatif dari 132 
kursi yang ada, sedangkan Fatah hanya memperoleh 45 kursi.

Foto: Penulis (kiri) ketika diundang  Duta Besar Irak untuk Indonesia,  Dr.Sa'doon J.al-Zubaydi tahun 1999 lalu.

Dalam hal ini Amerika Serikat dan Israel ikut campur dan tidak mengakui kemenangan Hamas. Kedua negara itu tetap mengakui Fatah. Hamas kemudian mendirikan pemerintahan di Jalur Gaza dan Fatah di Tepi Barat. Hamas waktu itu diblokir dan diembargo. George Galloway berniat  menerobosnya. Artinya sama dengan menentang Amerika Serikat dan Israel.

George Galloway pada tahun 2012 sering terlihat di Indonesia, karena istri terakhirnya berasal dari Indonesia. Namanya Putri Gayatri Pertiwi. Waktu menikah itu usianya 27 tahun, sedangkan Galloway 57 tahun. Selisih usia mereka 30 tahun, tetapi hingga sekarang rukun dan damai.

George Galloway juga menyinggung Irak. Pada waktu inilah rekaman ingatan saya kembali 
ke tahun 1999 ketika saya diundang  Duta Besar Irak untuk Indonesia,  Dr.Sa'doon J.al-Zubaydi untuk berbicara tentang kemelut di Dunia Arab. 

Gaya berbicara George dan Dr.Sa'doon hampir sama, yaitu tidak mentolerir kearoganan Amerika Serikat dan Israel. Apa yang dikatakan George tidak jauh berbeda dengan Dr.Sa'doon, yang lulusan Sastra Inggris di 
Universitas Harvard dan penterjemah Presiden Irak Saddam Hussein waktu itu.

"Amerika Serikat dan Israel menerapkan standar ganda. Pada satu sisi negara lain di embargo dan diisolir, tetapi Israel dan Amerika Serikat melakukan hal sama,  tidak dihukum atau diberikan sanksi," ujar keduanya pada waktu yang berbeda.

Sayang perjuangan Dr.Sa'doon yang menjadi Duta Besar Irak untuk Indonesia yang 
saya temui tahun 1999 itu berakhir dengan hancurnya Irak oleh Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Nasibnya juga tidak diketahui.

Terakhir beliau sempat memberikan sebuah foto yang kemudian minta dimuat di buku yang sedang saya tulis: "Saddam Hussein Menghalau Tantangan." Foto itu adalah foto George Galloway yang sedang menyerahkan Panji Al-Kuds (Jerusalem) kepada Mantan Presiden Irak Saddam Hussein, pada tahun 1994. Di tengah-tengahnya berdiri Dr.Sa'doon al-Zubaydi sebagai penterjemah. 

Dr.Sa'doon al Zulbaydi tidak pernah tampil lagi bersama Saddam Hussein, seiring jatuhnya Irak. Tetapi saya bergembira George Galloway memiliki semangat  yang sama dengan Dr.Sa'ddon al-Zubaydi, sama-sama berbicara keras melihat ketidak adilan.

Pertanyaan saya di mana posisi pemerintah Indonesia sekarang ini? Bagaimana posisi Indonesia ketika Irak diserang habis-habisan oleh NATO? Mengapa tidak ada hukuman bagi pihak si penyerang?