Diprediksi AS dan Sekutunya Serang Lagi Suriah Sebagaimana Skenario Sewaktu Serang Irak

Ar | Rabu, 18 April 2018 - 09:23 WIB
Diprediksi AS dan Sekutunya Serang Lagi Suriah Sebagaimana Skenario Sewaktu Serang Irak

Oleh Dasman Djamaluddin

Setelah pasukan Amerika Serikat (AS), Prancis dan Inggris melancarkan serangan di Suriah, Presiden Perancis Emmanuel Macron meyakinkan Presiden AS Donald Trump untuk tidak menarik pasukan dari Suriah dalam jangka lama.

Ini menandakan AS dan sekutunya tidak ingin Rusia dan Iran menguasai Suriah sepenuhnya. Memang selumnya, awal bulan ini, Trump pernah juga  menyatakan akan memulangkan pasukannya dari Suriah dengan segera.

Namun, pasukan gabungan AS, Inggris, dan Perancis melakukan serangan yang menargetkan pemerintah Suriah sebagai respons atas dugaan penggunaan senjata serangan kimia di Douma.

"Sepuluh hari lalu, Presiden Trump mengatakan AS harus menarik pasukan dari Suriah. Saya meyakinkan dia bahwa penting untuk tetap berada (di Suriah) untuk waktu lama," ucapnya dalam sebuah wawancara televisi.

Dalam sambungan telepon dengan Trump, dia juga membujuknya untuk tetap melancarkan serangan terbatas di lokasi serangan senjata kimia.

Macron mengklaim sekutu memiliki bukti adanya serangan kimia di kota Douma, dekat Damaskus pada 7 April lalu dan meminta pemerintah Suriah bertanggung jawab.

Tuduhan itu disangkal Suriah. Dia juga mengaku telah berbicara langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mendukung militer pemerintah Suriah.

Macron menyebut Rusia terlibat dalam serangan kimia tersebut.

Sementara itu, pihak Gedung Putih memberikan jawaban atas komentar Macron.

Meski dinyatakan AS tidak berubah, Presiden Trump  telah jelas bahwa dia menginginkan pasukan AS untuk pulang ke rumah secepat mungkin, tetapi kata Juru Bicara Gedung Putih, kendati demikian, AS bertekad untuk menghancurkan kelompok ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) dan mencegahnya kembali eksis.

Sementara ini, AS memiliki sekitar 2.000 personel di Suriah timur untuk mendukung sekutunya Kurdi dan Arab yang dikenal dengan nama Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Jika mengamati pernyataan Donald Trump tersebut, sepertinya AS menerapkan "double standar," sebagaimana dilakukannya di Irak semasa Presiden Irak Saddam Hussein berkuasa. Apalagi ucapan Trump agar menarik pasukannya dari Suriah,  itu disampaikannya sebelum Pangeran Arab Saudi berkunjung ke AS. Sementara kalimat lanjutannya masih diperlukan pasukannya untuk melawan ISIS, kalimat itu muncul setelah Pangeran Arab Saudi berkunjung ke AS.

Pengaruh Arab Saudi di dalam menggiring opini kebijakan AS telah lama terjadi, yaitu sejak tetangga Suriah, yaitu Irak diserang AS dan sekutunya, maka waktu itu,  Bandara Arab Saudi dijadikan pangkalan untuk menyerang Irak.

Itu terjadi,  baik di masa pemerintahan AS semasa Presiden AS George Herbert Walker Bush (ayah) maupun George Walker Bush (anak). Itu pula sebabnya keakraban Kerajaan Arab Saudi semasa pemerintahan Bush (ayah dan anak) dipublikasikan dalam sebuah foto sebagaimana di atas. Terlihat Bush (ayah) duduk, dan Bush (anak) berdiri, dua dari kiri bersama Pangeran Arab Saudi, berdiri, berkumis dan berjenggot, karena susah dikenali, karena sewaktu di AS, pangeran melepas tradisi Arabnya berkafiyeh dan besorban.

Pada masa George Herbert Walker Bush menjadi Presiden AS ke-41, Irak sudah diserang. Itu terjadi pada tahun 1991. Saya ke Irak di bulan Desember 1992. Memang ada pembatasan udara Irak oleh PBB di mana udara Irak tidak boleh dilalui di kawasan larangan terbang di utara,  Paralel 36 dan di selatan, paralel 32. Oleh karena itu, pesawat saya kemana dulu mendarat. Tidak lain, satu-satunya Bandara yang terbuka untuk jalur ke Baghdad (Irak), yaitu Yordania. Dari ibu kota Yordania, Amman, saya naik taksi  melalui jalan darat ke Baghdad. Siapa pun dia, waktu itu harus naik kendaraan melalui darat sepanjang 885 kilometer.

Di Baghdad, saya tidak melihat reruntuhan serangan pasukan AS ke Baghdad. Semua jalan tidak ada tanda-tanda pemboman, karena Presiden Irak Saddam Hussein waktu itu memerintahkan segera memperbaiki jalan atau bangunan yang rusak di bom pasukan AS.

Di bulan September 2014, saya kembali mengunjungi Irak. Kali ini baru saya menyaksikan bekas-bekas reruntuhan serangan AS dan sekutunya di Irak. Serangan besar-besaran AS dan sekutunya ini berhasil menjatuhkan Presiden Irak Saddam Hussein. Itu terjadi di masa anak Bush jadi Presiden AS ke-43.

Alasan AS menyerang Irak, tuduhannya persis sama dengan tuduhan ke Suriah sekarang ini. Memiliki senjata pemusnah massal. Faktanya di Irak tim PBB tidak menemukan senjata itu, apakah peristiwa yang sama akan terjadi di Suriah?