Di Mana Posisi Hukum Internasional Ketika Suriah Diserang Tanpa Resolusi DK PBB

Ar | Selasa, 17 April 2018 - 10:08 WIB
Di Mana Posisi Hukum Internasional Ketika Suriah Diserang Tanpa Resolusi DK PBB

Oleh Dasman Djamaluddin

Perkembangan terakhir di Suriah semakin tidak menentu. Dua kekuatan besar, Amerika Serikat (AS) dan Rusia selalu bersaing  di wilayah itu.

Perang modern memang sudah terjadi  sebelum pesawat tempur AS, Prancis dan Inggris, membombardir Suriah beberapa hari yang lalu. Itu terlihat hadirnya senjata dan pesawat mutakhir untuk menunjukkan kelebihan negara masing-masing.

Perang kadang-kadang tidak mengindahkan hukum internasional. Di berbagai negara sering kita saksikan. Hukum Internasional berisi dogma yang harus diikuti dan dihindarkan sebagaimana yang tertulis dalam Piagam Perserikatan Bangsa (PBB) dikesampingkan begitu saja demi alasan politik negara bersangkutan.

Masuknya pesawat tempur AS, Inggris dan Prancis ke wilayah Suriah telah melanggar hukum internasional. Ini sudah dikategorikan sebagai sebuah intervensi.

Begitu pula ketika pesawat-pesawat AS dan sekutunya membombardir Irak di bulan September 2003. Baik Irak dan Suriah adalah penghasil minyak terbesar di dunia. Di Irak sepertinya AS salah strategi. Awal mulanya dengan menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein waktu itu, semua persoalan telah selesai. Ternyata tidak. Hal ini dapat kita lihat dari dukungan Irak mengecam serangan pesawat AS dan sekutunya ke Suriah.

Jadi jika boleh saya katakan, AS salah strategi dengan membunuh Presiden Irak Saddam Hussein di tiang gantungan. Setelah itu muncul apa yang disebut Negara Islam di Irak. Kemudian menyebar ke Suriah, sehingga namanya berubah menjadi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). 

Lama-lama terungkap bahwa ISIS ini adalah bentukan AS. Dalam kampanye Donald Trump ingin mencalonkan diri sebagai presiden, ditegaskan Trump bahwa ISIS itu yang bentuk AS. Jadi strategi AS di Irak dan Suriah ini gagal total. Di Irak tidak terlalu sukar mengatakan, Irak sekarang berkiblat kepada Iran, meski pengaruh AS setelah pasukannya mengundurkan diri masih ada. Di Irak itu, munculnya Saddam Hussein sebagai Muslim Sunni sedikit mengagetkan, karena di Irak itu mayoritas penduduknya Muslim Syiah. Sekarang Syiah kembali berkuasa.

Di Suriah, kebalikan dari Irak di masa Saddam Hussein. Presiden Bashar al-Assad yang menggantikan ayahnya Hafez Assad berasal dari Syiah, sementara mayoritas penduduknya Muslim Sunni. Tetapi dukungan Rusia kepada Suriah dikarenakan sejarah masa lalu, karena baik pemimpin  Irak atau Suriah adalah berasal dari Partai Baath yang berporos ke Moskow, Rusia.

Di Irak dan Suriah, karena pengaruh Iran sudah masuk ke kedua negara itu, Islam Syiah semakin berakar di kedua negara tersebut. Syiah atau Sunni ini menurut Said Agil Siradj di "NU online" mengatakan lebih terperinci tentang Sunni dan Syiah.

Menurut Agil Siradj, setelah Rasulullah wafat, memang muncul berbagai aliran dalam Islam. Ada yang disebabkan oleh alasan politik dan ada pula yang disebabkan oleh perbedaan cara tafsir ajaran Islam terhadap berbagai persoalan baru. 

Agil menambahkan, beberapa aliran yang muncul di antaranya adalah Kodariyah, Murjiah, Muktazilah, Khawarij, Syiah, dan Ahlusunnah. Dari sekian banyak aliran yang ada, kini dalam perjalanan 15 Abad Islam, tinggal Sunni (Ahlusunnah) dan Syiah yang tetap bertahan sedangkan lainnya secara nama sudah hilang, meskipun pengaruh alirannya tetap ada dalam berbagai bentuk.

Agil Siradj meyakini, keberadaan dua aliran yang sudah terbukti mampu bertahan ini akan mampu bertahan jauh di masa depan. Pengikut aliran Syiah memiliki kelebihan berupa militansi yang bagus. Militansi yang intelek, bukan militansi yang ngawur. Dalam kasus Palestina, di wilayah tersebut tidak ada orang Syiah, tetapi Iran lah yang paling menganggap musuh dengan Israel, yaitu  Hizbullah yang paling menganggap musuh Israel. 

Mengenai kepintaran orang Syiah,  Said menjelaskan, hal ini bisa dilihat dari latar belakang peradaban Persia yang jauh lebih maju dari Arab. Begitube masuk Islam, tinggal ganti agama, ganti kitab suci Al-Qur’an, tetapi nilai-nilai peradabannya sudah mapan. 

“Ahli hadits tidak ada orang Arab, tetapi orang Persia semua. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi,” imbuhnya. 

Ia menambahkan yang menciptakan ilmu nahwu, Imam Sibawaih merupakan orang Persia, yang menciptakan ilmu balaghoh atau kesusastraan bahasa Arab juga orang Persia, yaitu Amir bin Ubaid. Yang pertamakali menjadi mufassir besar, yaitu orang Tabaristan, yaitu Ibnu Ja’far Attabari yang membuat tafsir 10 jilid. Imam Ghozali merupakan Persia. Abu Hanifah dan Imam Hambali orang Persia. Sementara Imam Syafii dan Imam Malik orang Arab. 

Mengenai hubungan yang harmonis antara Sunni dan Syiah,  Said yang menyelesaikan doktor di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, Mesir bisa menjadi contoh. Mesir dulu ada kelompok Syiah, Sunni, dan Kristen Ortodok. Mereka bisa hidup damai. 

“Ngak pernah ada konflik mazhab. 10 raja dari Syiah di Mesir dari dinasti Fatimiyah. Yang membangun kota Kairo orang Syiah, yang membangun masjid Al Azhar juga orang Syiah,” tandasnya.

Sayangnya, Mesir kini sudah mulai ada yang terseret pada fanatisme kelompok seperti mulai adanya ISIS dan Al-Qaedah. 

Dari pernyataan Kiai Said Agil Siradj ini, saya yang pernah ke Irak dua kali, yaitu pada bulan Desember 1992 dan September 2014 merasakan hal tersebut.Tahun 2014, saya pergi ke Masjid Al Kufah, masjidnya Ali ra
.Juga ke Padang Karnala.Menurut sejarah, ketika Hussein, anaknya Ali ra inilah muncul perpecahan dalam Islam.Di Irak itu penduduknya mayoritas Syiah.Presiden Irak Saddam Hussein merupakan pemimpim yang beruntung.Ia pemganut Sunni, tetapi untuk beberapa dekade sebelum dihukum gantung pernah memimpin penduduk Irak yang penduduknya mayoritas Syiah.

Jadi itulah sejarah Sunni dan Syiah yang sering menjadi tema sentral di kawasan Timur Tengah, khususnya di Irak dan Suriah sekarang ini. Meski Rusia dan AS tidak selalu mengedepankan hal ini, tetapi dari hasil KTT Liga Arab tanpa dihadiri Suriah, sulit untuk menghilangkan perbedaan kedua paham tersebut, yaitu antara Islam Sunni dan Syiah.