Soekarno dan Putin tentang Menatap Perkembangan Dunia

Ar | Senin, 16 April 2018 - 10:25 WIB
Soekarno dan Putin tentang Menatap Perkembangan Dunia

Oleh Dasman Djamaluddin

Hari Minggu, 15 April 2018, Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara melalui telpon  dengan rekannya Presiden Iran Hassan Rouhani. Sudah tentu kedua pemimpin negara itu berbicara tentang serangan pesawat tempur Amerika Serikat (AS), Inggris dan Prancis ke Suriah sehari sebelumnya.

Menurut Putin setelah pemboman itu,  situasinya kacau. Hal ini juga dikaitkan dengan dilanggarnya Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Memang benar,  serangan ke Suriah  itu tidak memperoleh izin dari PBB. Biasanya ada sebuah resolusi dari Dewan Keamanan PBB agar penyerangan ke sebuah negara dianggap sah oleh hukum internasional.

Situasi di Suriah memang sejak AS masuk ke Suriah dan ingin menjadikan keberhasilannya di Irak dengan menggulingkan pemerintahannya, di Suriah untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad, gagal. Masuknya Rusia dan Iran ke Suriah memperkuat posisi presiden Suriah tersebut.

Tidak hanya itu, Pemimpin Hezbollah, Sayyid  Hassan Nasrarallah, hari Minggu, ikut memperingati AS dan sekutunya. Berarti jika situasi di Suriah bertambah hangat, situasi di Afghanistan pun ikut terkena dampaknya.

Indonesia sebenarnya telah lama mengingatkan peranan PBB sebagai lembaga dunia yang muncul untuk menjadi lembaga perdamaian. Presiden RI Soekarno malah mengatakan dalam pidatonya berjudul " Membangun Dunia Baru" (To Build The World A New) di Markas PBB New York (AS) pada 30 September 1960, bahwa badan dunia itu sulit menciptakan keadilan dunia, karena markasnya berada di AS. Soekarno mengusulkan agar markas PBB dipindahkan dari New York. Bahkan Indonesia waktu itu keluar sebagai anggota PBB ini karena berlaku  tidak adil.

Putin juga melihat tindakan AS dan sekutunya sejak di Irak, Yugoslavia dan Libya sudah melanggar Piagam PBB, karena serangan ke ketiga negara tersebut tidak seizin PBB.

Di Irak, pasukan AS dan sekutunya masuk tahun 2003 dengan menggulingkan Pemerintahan Irak yang sah, Presiden Saddam Hussein. Di Yugoslavia tahun 1999, selanjutnya masuk juga ke Libya menggulingkan pemerintahan Moammar Khadafi.

AS menganggap pemimpin negara di Irak, Libya harus digulingkan. Sebetulnya juga Presiden Suriah Bashar al-Assad. Tetapi di Suriah gagal, entahlah ke depan, karena Presiden Bashar al-Assad didukung Rusia dan Iran.