Setelah Rusia Memveto Sidang DK PBB tentang Suriah

Ar | Kamis, 12 April 2018 - 09:51 WIB
Setelah Rusia Memveto Sidang DK PBB tentang Suriah

Oleh Dasman Djamaluddin

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentu gusar, karena berkali-kali mengajukan rancangan Resolusi tentang Suriah di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) selalu diveto oleh Rusia. Selalu, karena AS  sudah mengajukannya sebanyak 12 kali, tetapi selalu diveto Rusia.

Pada hari Selasa, 10 April 2018 lalu, ini merupakan veto terbaru dari Rusia. Bayangkan, ada sekitar 12 negara, di antaranya Inggris, Prancis, negara-negara Afrika Selatan, Kazakhstan dan Kuwat  yang mendukung, sedang yang tidak mendukung hanya satu, Bolivia, ternyata hasil akhirnya Rusia memvetonya. Sudah tentu Bolivia ikut senang dengan veto Rusia itu, karena negara ini yang tidak setuju dengan usul AS tersebut.

Memang situasi di Suriah tidak dapat disamakan ketika AS minta persetujuan anggota DK PBB menyerang Irak. Rusia yang waktu itu masih dipermasahkan dengan urusan ekonomi dalam negeri, tidak dapat membantu Irak. Rusia ikut setuju meski belakangan. Hasilnya Irak hancur lebur dan Presiden Irak yang sah waktu itu, Saddam Hussein ditangkap dan akhirnya dijatuhi hukuman gantung.

Ini merupakan kegagalan Rusia membela sekutunya waktu itu, Irak. Posisi Rusia berada dalam kesulitan ekonomi setelah pemimpin Uni Soviet (nama negara waktu itu) Mikhail Gorbachev melaksanakan pembaruan. Di samping sudah tentu produksi senjata pun terganggu.

Ketika Irak dihancurkan, ternyata salah persepsi, karena yang dibela AS setelah Saddam Hussein (Islam Sunni) tumbang adalah Islam Syi'ah. AS mulai menghidupkan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Jadi meliputi juga Suriah. Ide ini pun belakangan gagal.

Akhirnya, sekarang yang terjadi AS melawan ISIS, bekas bonekanya di Irak dan Suriah. Apakah benar serius AS melawan ISIS. Beberapakali rahasia intelijen AS bocor, di mana terdapat lembaran tulisan berbahasa Arab ditemukan di Mosul, Irak bahwa jangan tembak pesawat tempur AS yang sedang mengudara. Pun di Suriah tampak pesawat tempur AS sedang memindahkan pasukan ISIS ke tempat lebih aman. Kalau demikian, apa keinginan AS membantu pemberontak Presiden Suriah Bashar al-Assad, sekaligus diam-diam mendukung ISIS?

Tujuan utamanya di Suriah untuk  menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad seperti menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein di Irak. Ternyata AS menemui hambatan. Rusia yang sudah pulih membela Presiden Suriah Bashar al-Assad. Melalui persenjataan yang sudah canggih, Rusia masuk ke Suriah. Sekarang Rusia menjalin kerjasama erat dengan Iran dan Pemerintah  Suriah. Terakhir dengan Turki.

Oleh karena itu jika melihat peta kekuatan AS di Suriah di mana terdapat Turki, boleh jadi sekarang sudah berubah. Bahkan Presiden Rusia Vladimir Putin sering terlihat di Turki membantu penjualan senjata ke negara itu.

Juga perkembangan paling akhir di Suriah, adalah tuduhan AS terhadap Suriah dan Rusia menggunakan senjata kimia. Sementara hal ini sudah dibantah Suriah dan Rusia. Malah menduga pemberontak yang didukung AS melakukannya dan Presiden Suriah Bashar al-Assad ingin sekali PBB hadir di Suriah untuk melihat dan memeriksanya.