Balas Tantangan Presiden Amerika

Ngeri, Pejabat Korut Sindir Donald Trum 'Anjing Gila'

Khairy Ataya | Rabu, 08 November 2017 - 17:59 WIB
Ngeri, Pejabat Korut Sindir  Donald Trum 'Anjing Gila' Donald Trump

KOREA, MerdekaNews - Pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berapi-api di hadapan parlemen Korea Utara (Korut) dibalas dengan sindiran.

Pidato Trump soal Korut kali ini sebenarnya lebih lunak dari sebelumnya. Trump mengingatkan Korut untuk tidak meremehkan AS. Dia juga menyerukan aksi global untuk menghentikan ancaman rudal dan nullir Korut.

Sejumlah pejabat Korut di Pyongyang yang memiliki kewenangan untuk berbicara mewakili pemerintah Korut, menuturkan kepada CNN, Rabu (8/11/2017), bahwa jika membahas Trump: "Kami tidak peduli soal apa yang diucapkan anjing gila itu karena kami sudah mendengar cukup banyak."

Rezim Korut menuding Trump dan otoritas AS sengaja memanaskan situasi di Semenanjung Korea hingga ke level yang belum pernah terjadi sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata tahun 1953 silam.

Menurut para pejabat Korut, tindakan lebih penting daripada kata-kata. Komentar itu disampaikan para pejabat Korut merujuk kepada tiga kapal induk AS plus sebuah kapal selam bertenaga nuklir yang kini berada di perairan dekat Semenanjung Korea.

"Amerika Serikat mengancam kami dengan kapal induk nuklir dan pengebom strategis. Mereka menantang kami dengan provokasi yang paling keji dan merendahkan, tapi kami akan menangkal ancaman-ancaman itu dengan meningkatkan kekuatan keadilan demi memusnahkan akar pemicu agresi dan perang," kata pejabat-pejabat Korut yang tidak disebut namanya itu.

Dalam pidatonya, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan diplomasi untuk menyelesaikan krisis nuklir Korut. Namun hal itu memiliki syarat, yakni Korut harus menghentikan perilaku provokatif, kemudian menghentikan pengembangan rudal balistik dan sepakat pada denuklirisasi secara 'lengkap, terverifikasi dan total'. Kebanyakan pengamat isu Korut meyakini syarat terakhir sulit terwujud.

"Prospek Korea Utara untuk sungguh-sungguh melakukan denuklirisasi mendekati nol," ucap Michael Hayden yang merupakan mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) dan Badan Keamanan Nasional (NSA).

"Mereka (Korut-red) tidak irasional dalam isu ini, mereka melihat apa yang terjadi pada negara-negara yang menghentikan program nuklirnya dan mereka berusaha memegang teguh program ini sebagai hal yang membuat rezim bisa bertahan," imbuhnya.