Keberhasilan Erdogan Memimpin Turki dan Peranan Pentingnya di Timur Tengah

Ar | Selasa, 10 April 2018 - 09:37 WIB
Keberhasilan Erdogan Memimpin Turki dan Peranan Pentingnya di Timur Tengah

Oleh Dasman Djamaluddin

Recep Tayyip Erdogan, itulah nama lengkap Presiden Turki sekarang ini. Ia lahir di Instanbul, Turki, 26 Februari 1954 dan menjabat Presiden Turki sejak 2014. Sebelumnya, ia menjabat Perdana Menteri sejak 14 Maret 2003 sampai 28 Agustus 2014. 

Kemarin, Senin, 9 April 2018, di twitternya, Erdogan menulis pertumbuhan ekonomi negaranya. "Pertumbuhan negara kami, income nasionalnya naik tajam dari 236 juta dollar AS ke 860 juta dollar AS. Rata-rata pertumbuhannya 5,8 persen antara tahun 2003 dan 2017. Artinya, tumbuh 3,5 kali lebih besar di atas 15 tahun lalu, " tulis Erdogan.

Meski Turki merupakan satu dari beberapa negaraTimur Tengah yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, Erdogan menyatakan bahwa dia akan melawan jika Israel menyerang Lebanon dan Jalur Gaza.

Ditinjau dari segi geografis, Turki merupakan jembatan antara Benua Asia dan Eropa, karena negara Turki sebagian terletak di Benua Asia dan sebagian lagi terletak di Benua Eropa. Di Benua Asia, Turki berbatasan langsung dengan Suriah yang kini masih bergejolak, Irak dan Iran. Juga berbatasan dengan negara bekas Uni Soviet, seperti Georgia.

Di Eropa, kota Istanbul yang bersebelahan dengan Yunani, Bulgaria, Serbia, Macedonia dan Kroasia, yang sebagian adalah bekas negara-negara Uni Soviet, tetapi letaknya di Benua Eropa.

Nama Turki belakangan ini semakin mencuat ke permukaan, ketika di Turki diselenggarakan ketiga pemimpin negara, yaitu Turki, Rusia dan Iran. Ini sekaligus menandakan kebijakan baru untuk Turki yang sekarang lebih dekat ke Rusia dan Iran dari pada ke Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya di Eropa.  Sekaligus sebagai bukti bahwa kerja sama Turki ke Rusia dan Turki lebih mudah dan lancar.

Lihatlah bagaiman Rusia membantu teknologi nuklir Turki. Sebaliknya Turki membeli senjata dari Rusia untuk memperkuat posisinya memerangi suku Kurdi di perbatasan negaranya dengan Suriah dan Irak.

Memang ulah para pejuang Kurdi atau Kurdish Workers Party (PKK) untuk mendirikan sebuah negara merdeka dan berdaulat memusingkan Turki. Bahkan pasukan Turki siap menyerang gerilyawan Kurdi yang lari ke utara Irak.

Kurdi merupakan suatu bangsa tersendiri, yang memiliki bahasa dan budaya tersendiri, tetapi bangsa ini menyebar di perbatasan Turki, Iran, Irak dan Suriah. Di Irak baru-baru ini bergulir referendum suku Kurdi yang mayoritasnya mendukung mendirikan negara Kurdistan. Tetapi tidak ditanggapi pemerintahan di Irak.

Karena masalah membunuh suku Kurdi ini pula Presiden Irak Saddam Hussein harus mengakhiri hidupnya di tiang gantung. Setelah Presiden Irak Saddam Hussein ditangkap oleh tentara Amerika Serikat pada 13 Desember 2003, delapan bulan setelah invasi (20 Maret 2003) dan kemudian dijatuhi hukuman gantung, yang menjalankan pemerintahan di Irak, adalah kelompok Syiah sebagaimana para pemimpin Syiah di Iran.