Jelajah Wisata Pulau Kundur Kepulauan Riau

Bai/Sumber : fadventure | Minggu, 01 April 2018 - 06:56 WIB
Jelajah Wisata Pulau Kundur Kepulauan Riau

KUNDUR, KEPRI (wartamerdeka) - Selamat datang di Tanjungbatu. Kalimat tersebut akan menyambut kedatangan Anda ketika menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Kundur. Tanjungbatu adalah pusat kota dengan penduduk terpadat di pulau ini. Secara administratif masih termasuk wilayah Kabupaten Karimun di propinsi Kepri.

Saat menginjakkan kaki di pelabuhan Tanjungbatu tidak perlu merasa bingung. Karena sesungguhnya Anda sudah berada di pusat kota. Tanjungbatu merupakan sebuah kota di tepi laut. Dengan mudah Anda bisa menemukan hotel, rumah makan, transportasi, dan fasilitas lainnya hanya dengan berjalan kaki.

Ada satu hal unik yang hanya bisa dilihat di Pulau Kundur, yaitu sebuah kendaraan antik bernama Bas. Kendaraan ini populer digunakan sebagai angkutan umum pada era 80-an hingga 90-an. Berbentuk serupa bis pada umumnya namun didominasi dengan bahan kayu serta wajah depannya terkesan pesek sedikit mirip oplet Mandra pada sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Sesekali masih terlihat melintasi jalanan Kundur. Meski sudah berumur namun performanya masih terlihat melaju dengan gesit. Mengelilingi Pulau Kundur dengan Bas tentu bisa dijadikan pilihan wisata nan berkesan.

Aktifitas menjelajah Pulau Kundur bisa diawali dengan menyinggahi Kota Tua Tanjungberlian. Jarak tempuh dari Tanjungbatu memakan waktu 30 menit perjalanan dengan melewati Desa Sei Ungar. Sepanjang perjalanan akan disuguhi pemandangan berupa desa alami yang diselimuti pepohonan hijau. Deretan rumah panggung memenuhi sisi jalanan yang sudah berlapis aspal. Suasana hening dan semilir angin yang bertiup sepoi masuk melalui jendela Bas yang terbuka menambah nikmat perjalanan.

Di desa tersebutlah sebagian tokoh-tokoh besar yang ada di Kepri lahir. Beberapa diantaranya adalah Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Suhajar Diantoro, Mantan Gubernur Propinsi Kepri H.M. Sani, dan Hood Bersaudara; Huzrin Hood (Penggagas pembentukan Propinsi Kepri), Hardi Hood (Anggota DPD RI), dan Husnizar Hood (Anggota DPRD Kota Tanjungpinang).

Setibanya di Kota Tua Tanjungberlian penampakan akan didominasi warna coklat. Karena deretan bangunan ruko pada sisi jalan beraspal lebar ini masih berbahan kayu. Beberapa kedai kopi yang tersedia bisa dijadikan sebagai tempat beristirahat sejenak sambil menikmati pulau berbukit hijau di seberang yang bernama Belat.

Objek wisata menarik lainnya adalah Kolong Bebek. Dari Tanjungberlian dapat ditempuh selama 40 menit perjalanan. Kolong merupakan sebuah danau buatan bekas penggalian Timah atau Pasir. Meski begitu, pesona yang disuguhkannya tidak kalah menarik dengan danau alami. Air danau terlihat bening terlihat ke dasar kolong. Dikelilingi pepohonan hutan. Sebuah wahana sepeda air berbentuk bebek bisa menjadi pilihan untuk menjajal danau seluas lapangan sepakbola ini. Saat melintasi rute ini perjalanan akan melewati Desa Sanglang yang ditumbuhi tanaman karet, perkebunan nanas, dan pepohonan Durian yang merupakan buah andalan di Pulau Kundur.

Pilihan objek wisata lainnya adalah Pantai Lubuk. Jarak tempuh dari Kolong Bebek memakan waktu 45 menit perjalanan. Bebatuan granit tampak menumpuk pada salah satu sudut pantai berpasir putih dengan garis pantai sepanjang 2 kilometer ini. Deretan pondok tempat bersantai bisa ditempati sambil memesan makanan yang dijual warga sekitar. Pesona matahari terbenam bisa disaksikan dari pantai ini.

Jong adalah sebuah permainan rakyat dari tanah Melayu. Berbentuk miniatur perahu layar dengan panjang 1 meter. Tinggi layar yang terkembang dengan aneka warna di atasnya adalah 1,5 meter. Biasa dimainkan di laut dekat pantai. Jika hendak melihat keriuhan Jong yang dimainkan oleh sekelompok anak muda ini datang saja ke Pantai Timun pada hari Minggu sekitar jam 9 pagi. Pantai Timun terletak tidak jauh dari Kolong Bebek.

Di Pulau Kundur ada sekelompok suku laut yang telah hidup berbaur dengan masyarakat sekitar. Mereka bermukim di bibir pantai dekat Kota Sawang. Profesi mereka tidak jauh-jauh dari laut yaitu sebagai Nelayan. Bagi petualang yang gemar dengan hal-hal baru dan menarik bisa bersilaturahmi dengan mereka. Suku laut di Sawang ini lebih dikenal dengan nama Suku Akik.

Setelah puas seharian berkeliling Pulau Kundur, malam hari bisa dihabiskan dengan bersantai di pusat kota Tanjungbatu sambil bersantap di Akau. Akau adalah kawasan kuliner tradisional beratapkan langit dengan aneka jajanan gerobak yang mengelilinginya. Ragam jajanan seperti sate, mi goreng, soto, roti prata, nasi goreng, minuman bandrek, kopi, teh tarik, dan lainnya bisa dipesan di sini. Harganya yang terjangkau berkisar 3 ribu hingga 12 ribu rupiah mampu memanjakan perut yang kosong.

Pagi hari bisa dilakoni dengan bersepeda mengelilingi kota Tanjungbatu nan mungil. Sembari menyaksikan pesona matahari terbit yang muncul dari balik Pulau Ungar (Alai) di seberang. Keindahan sunrise ini bisa disaksikan langsung dari dermaga-dermaga yang ada. Sepeda tersebut bisa diperoleh dari tempat persewaan di pusat kota.

Menuju Pulau Kundur dapat ditempuh dari Pulau Batam selama 1,5 jam dengan menggunakan feri. Tiket feri dibanderol Rp. 130 ribu untuk sekali jalan. Nama Kundur memang masih kalah populer daripada nama ibukotanya sendiri sehingga saat berada di pelabuhan Sekupang, Batam, ucapkanlah kepada petugas tiket nama tujuan, “Tanjungbatu!”.