60 Tahun yang Lalu BK Marah AS Bantu PRRI

Ar | Rabu, 14 Maret 2018 - 08:29 WIB
60 Tahun yang Lalu BK Marah AS Bantu PRRI

Oleh Dasman Djamaluddin

Di bulan Maret 1958, 60 tahun yang lalu terjadilah perang saudara antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah (Pemerintah Republik Revolusioner Indonesia/ PRRI) di kota Padang, Sumatera Barat. Perang berakhir pada bulan Agustus 1961. Sebetulnya Perdana Menteri Djuanda terus terang melukiskan, keputusan pemerintah untuk melakukan aksi militer guna memadamkan perlawanan merupakan pilihan yang sulit.

Mengapa Djuanda berpikiran demikian?  Karena dalam pandangan pribadinya, bagaimanapun juga aksi militer akan memakan korban jiwa di kedua belah pihak. Tetapi Djuanda juga menyatangkan mengapa dari pihak PRRI tidak memberikan pilihan lain kepada pemerintah pusat.

Selain itu, faktor lain mengapa pemerintah pusat menyerang habis-habisan pemerintah tandingan, dipandang karena Menteri Luar Negeri PRRI/ Permesta Maludin Simbolon dengan berani mengeluarkan instruksi kepada semua perwakilan asing di Jakarta untuk tunduk kepada mereka. Pun tidak dapat dipungkiri adalah gerak gerik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang digerakan untuk menuju ke perairan Singapura. Kekuatan itu terdiri dari kapal penjelajah berat USS Bremerton, destroyer USS Ticonderoga. Gugus Tugas 75 ini membawa serta dua batalion pasukan marinir "United States Marine Corps (USMC) dalam kondisi siap tempur.

Keterlibatan AS dalam membantu gerakan anti Soekarno adalah suatu kenyataan dari kebijakan politik luar negeri AS waktu itu, yaitu di masa Perang Dingin. Berkaitan dengan Indonesia tahun 1957, Kongres AS menyetujui usulan Presiden AS Eisenhower yang disebut "Doktrin Eisenhower," yaitu dengan memberikan dana sebesar 10 juta dollar AS dalam bentuk cek kosong.

Program Eisenhower ini dibuat untuk memerangi pengaruh komunisme di negara-negara miskin di Asia dengan berbagai cara seperti memberi pinjaman yang harus dipakai untuk membeli sesuatu dari AS, misalnya beras dan senjata atau menggunakan CIA (Agen Intelijen Pusat) untuk menggulingkan kepala negara yang tidak sportif terhadap politik AS, yaitu dengan mendukung gerakan opisisi. Maksudnya adalah agar supaya pemerintahan yang baru tidak ragu-ragu  lagi menjadi suatu pemerintahan yang pro Amerika.

Pada akhirnya rencana AS ini gagal di Indonesia setelah Kolonel Achmad Yani yang dibantu Mayor Sudomo selaku Kepala Staf ATF-17 menyerang habis-habisan Markas Besar PRRI di Padang. Ahmad Husein sebagai pemimpinnya lari ke luar kota bersama sisa-sisa anak buahnya.

Sebetulnya sebelum perang meletus, Presiden Soekarno pada tanggal 2 Februari 1957 pernah membuat surat pribadi kepada Ahmad Husein, yang menanggilnya sebagai anak. Tetapi himbauan itu tidak dihiraukan Ahmad Husein. Malah lebih membuat Bung Karno marah karena AS ikut campur dalam negeri Indonesia. Begitu pula himbauan Bung Hatta dalam suratnya tanggal 4 Maret 1957, pun tidak digubris Ahmad Husein.

Secara pribadi, saya bertemu dua kali dengan Ahmad Husein di rumahnya di Jakarta. Pertemuan ini difasilitasi Jusron Lamisi teman di FHUI. Ia adalah suami dari kakak  isteri  Ahmad Husein. Saya hanya mendengar satu kalimat dari Ahmad Husein yan waktu itu sudah sakit-sakitan duduk di kursi roda, "Saya Bukan Pemberontak. Cita-cita kami agar Bung Karno tidak terlalu dekat dengan PKI."

Akhir hidup Ahmad Husein, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kuranji Padang. Ia memperoleh amnesti dari pemerintah. Ahmad Husein adalah juga seorang militer. Pernah menjadi Komandan Brigade EE Banteng Territorium I Bukit Barisan di Padang. Juga ikut dalam operasi memulihkan keamanan di daerah Aceh. Tahun 1959 ikut melakukan operasi di daerah Jawa Barat.