Banyak WN AS Tidak Peduli Dukungan AS dalam Konflik di Yaman

Ar | Jumat, 02 Maret 2018 - 08:26 WIB
Banyak WN AS Tidak Peduli Dukungan AS dalam Konflik di Yaman

Oleh Dasman Djamaluddin

Situasi di Yaman semakin pelik. Hal ini terlihat ketika Pakistan ikut mengirim 1000 pasukannya ke Arab Saudi untuk membantu konflik di Yaman. Sudah tentu dapat kita pastikan, Arab Saudi sejauh ini segaris dengan Amerika Serikat (AS).

Tidak sulit untuk mengatakan Arab Saudi segaris dengan AS. Lihatlah ketika terjadi serangan AS dan sekutunya ke Irak, bukankah Arab Saudi menyediakan pangkalannya untuk menyerang Irak?

Tentang konflik di Yaman, kebijakan AS sudah memperoleh kritikan dari Senator Bernie Sanders yang mengatakan banyak warga AS  tidak peduli dengan dukungan AS kepada Arab Saudi yang memimpin koalisi menentang gerilyawan Houthi.

Foto di atas memperlihatkan Bernie Sanders (kiri), dan Mike Lee yang menyusun resolusi agar pasukan AS tidak lagi bersinggungan dengan perang di Yaman. Foto diambil dari rlMark Wilson/Getty Images/AFP.

Senator AS  telah menyusun draf resolusi untuk menghimbau militer AS tidak lagi perang di Yaman. Dukungan senator terhadap draf resolusi ini didukung Senators Bernie Sanders, Mike Lee dan Chris Murphy.

"Kami percaya, sebagaimana Kongres, tidak akan mendekarasikan perang atau mengedepankan kekuatan militer dalam konflik ini. Itu tidak konstitusional untuk mendukung koalisi Arab Saudi. Peranan AS harus diakhiri," tegas Sanders dalam pernyataannya hari Rabu lalu. 

Sanders mengingatkan bahwa di dalam UU AS, hanya  Kongres AS yang bisa mendeklarasikan perang. Memang sejak  November 2017, AS sudah terlibat dalam konflik di Yaman.

Konflik di Yaman dimulai sejak 2014, ketika gerilyawan Houthi bersekutu dengan pasukan yang loyal kepada mantan  Presiden Ali Abdullah Saleh.

Pasukan Arab Saudi kemudian melancarkan serangan udara besar-besaran menentang gerilyawan ini pada bulan Maret 2015.

Houthi merupakan kelompok gerilyawan yang berbasis di utara Yaman. Pengikut Houthi terkenal dengan sebutan Houthis. Nama ini diambil dari nama pencetusnya, Husein Badaruddin Houthi. Ia nerupakan pengikut Syiah Zaidiyah Jurudiyah yang lebih dekat dengan Syiah Isna Asyriyah (Syiah 12) yang ada di Iran.

Sebagai penganut Syiah Zaidiyah Jurudiyah, Badaruddin Houthi berbeda pandangan dengan mayoritas ulama Zidiyah di Yaman. Bahkan Badaruddin menolak fatwa ulama Syiah Zaidiyah yang terkait fatwa sejarah. Kedekatan paham dan ideologi antara Zaidiyah Juruddiyah dan Syiah 12 inilah mengapa Hothi sempat menetap di Iran dalam waktu yang cukup lama.

Sementara, menurut PBB,  perang telah menewaskan lebih dari  10.000 orang dan melukai lebih dari 40.000 orang.Ditambahkan, Yaman tengah menghadapi tragedi kemanusiaan terburuk di dunia. Sebelumnya sebagaimana kita ketahui, Irak juga mengalami tragedi kemanusiaan terburuk, tetapi dunia tidak pernah menghentikannya.

Pesawat tempur Arab Saudi telah memblokir negara itu, lebih dari tiga perempat dari jumlah penduduk Yaman, sekitar 22 juta, yaitu 11 juta penduduk memerlukan,  bantuan kemanusiaan agar bisa bertahan hidup.