Melihat Masa Depan Irak

Ar | Minggu, 25 Februari 2018 - 11:30 WIB
Melihat Masa Depan Irak

Oleh Dasman Djamaluddin

Buku yang ditulis Liam Anderson dan Gareth Stansfield tahun 2004 berjudul: "The Future of Iraq, Dictatorship, Democracy, of Division?," ini sangat menarik, meski tidak mengupas lahirnya Negara Islam di Irak yang hadir setelah buku ini terbit.

Anderson dan Stansfield membagi bukunya menjadi delapan bab. Mulai dari sejarah Irak tahun 1920, 1958, 1968-1988, hingga 2003, termasuk membahas khusus bab tentang, Shiah, Sunni, Kurdi dan dilema demokrasi di Irak.

Sepertinya buku ini membahas Irak ketika saya mengunjunginya pada bulan Desember 1992 dan bulan September 2014. Di dua kesempatan yang saya saksikan di Irak hanyalah kehancuran negara itu menjelang orang kuat Irak, --bagi Barat disebut Diktator Saddam Hussein, dan berakhirnya kekuasaan,  --hingga nyawanya berakhir di tiang gantungan.

Buku ini secara terperinci menjelaskan sejarah Syiah, Sunni dan Kurdi, yang hingga sekarang masih menjadi masalah di Irak.

Jika membaca halaman awal buku ini betapa tidak terasa,  kita dibawa ke masa jayanya negara Irak. Lambat laun kita dibawa ke kehancuran Irak dengan persaingan ketat kelompok Syiah. Sunni dan Kurdi yang dalam pemerintahan Irak sekarang ini terwakili.

Persoalan Irak sekarang ini, bagaimana caranya membangun Irak, di mana di wilayah tertentu sudah porak poranda.

Lebih lanjut, kita tidak bisa pula melepaskan kajian di Irak dengan Suriah, di mana buku ini terbit, masalah Negara Islam di Suriah baru berkembang. Di peta kekuatan di Suriah ini sangat jelas terlihat bagaimana AS dan sekutunya berhadapan langsung dengan pemerintah Suriah yang didukung Rusia.

Betapa dahsyatnya pertempuran di kawasan itu hingga sekarang menyebabkan banyak analis memperkirakan Perang Dunia III berasal dari Suriah.

Lihatlah kekuatan yang sedang bertarung di Suriah. Blok AS didukung oleh kekuatan dari Inggris, Australia, Arab Saudi, Qatar, Belgia, Kanada, Jordania, Belanda, Denmark dan Turki.

Presiden Suriah Bashar al-Assad yang semula akan digulingkan AS dan sekutunya itu, dibantu Rusia, Iran, China, Lebanon dan Irak menentang penggulingan. Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) meski terjadi konflik dengan AS, pertanyaannya ISIS tetap dinyatakan lahir dari induknya AS di masa Pemerintahan Barack Obama.