AS Cemas, RRC Buka Jalur Sutera Terbaru

Ar | Kamis, 22 Februari 2018 - 08:13 WIB
AS Cemas, RRC Buka Jalur Sutera Terbaru

Oleh Dasman Djamaluddin

Sebagai seorang pengusaha, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah tentu cemas melihat proyek infrastruktur Republik Rakyat China (RRC)  yang semakin berkembang dengan dibukanya Jalur Sutera terbarunya. Jalur Sutera merupakan jalur perdagangan dengan menggunakan kereta api. Sekarang jalur ini sudah merambah hingga London, Inggris.

Sebagaimana diketahui, Inggris dan Perancis adalah sekutu AS dalam bidang politik. Tetapi di bidang ekonomi, RRC melihatnya sebagai rekan bisnis dengan visi Presiden RRC sekarang, Xi Jinping, "One Belt, One Road." Itu sebabnya di bidang perekonomian, RRC menembus dan membuka batas dengan Inggris, Prancis dan sekutu AS lainnya di bidang politik.

Kereta api China ini akan membawa berbagai kebutuhan rumah tangga, tas dan produk garmen melalui Kazakhstan, Rusia, Belarusia, Polandia, Jerman, Belgia, Perancis sebelum sampai ke London (Inggris). Perhatikan negara-negara yang dilalui kereta api RRC tersebut.

Sudah tentu AS cemas melihat perkembangan ini. Perkembangan terbaru menginformasikan AS akan membendungnya dengan membuat kerjasama ekonomi dengan India, Jepang dan Australia. Ini baru rencana, tetapi sudah bisa memperlihatkan kepada kita bahwa AS yang presidennya kebetulan seorang pengusaha, sudah terlihat cemas.

Di majalah "Diplomat Indonesia," edisi 5 Oktober 2009, halaman 168-179, saya sudah menulis keunggulan China di bidang, termasuk juga di bidang  ilmu pengetahuan dan teknoligi. Ketika saya menulis profil Duta Besar China untuk Indonesia yang kebetulan waktu itu seorang perempuan, Yang Mulia Zhang Qiyue, saya mengutip  pernyataan Deng Xiaoping pada tahun 1978. Ia mengatakan, bila China ingin memodernisasi pertanian, industri, dan pertahanan, yang harus dimodernisasi lebih dahulu adalah sains dan teknologi, serta menjadikannya kekuatan produktif.

Deng Xiaping adalah pemimpin tertinggi Republik Rakyat China generasi kedua setelah Mao Zedong. Deng meninggal dunia pada 19 Februari 1997 di usia 92 tahun. Di bawah arahannya, China menjadi salah satu negara dengan laju pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Di masa Deng, China sangat akrab dengan ilmu pengerahuan dan teknologi. Guru dan kaum profesional sangat dihargai, bahkan di tahun 1985, Deng mempertegas pentingnya pendidikan karakter. Orientasi hafalan hanya akan membunuh karakter anak, ujarnya.

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi China ini diumum Deng ketika memperingati hari nasional ke-60 pada 1 Oktober 2009. Prestasi yang dicapai waktu itu, selesainya peta seluruh permukaan bulan tiga dimensi (3-D) bersolusi tinggi. Juga China bertekad akan terus mengembangkan program luar angkasa guna mengurangi kesenjangan dengan negara-negara Barat. Dengan demikian, China sudah sejajar dengan Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan India yang juga melakukan pemetaan bulan.

Tidak hanya itu, setelah mengirimkan orang pertama ke luar angkasa pada tahun 2003, China berambisi pula meluncurkan penjelajah tanpa awak ke permukaan bulan pada tahun 2012 dan misi berawak ke bulan sekitar tahun 2020.

Di Indonesia, di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, China membangun jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) yang sudag diresmikan pemakaiannya.Selain di Suramadu, para investor China membangun Proyek Asahan l dan Proyek  PLTA Asahan lll di Sumatera Utara. Semua ini menunjukkan kemajuan China.

Di masa Presiden Joko Widodo sekarang ini, kita banyak bekerja sama dengan RRC. Saya semakin bisa menangkap gagasan Bung Karno ketika mendukung kemerdekaan RRC pada 1 Oktober 1949. Lebih jauh dari itu, ketika Bung Karno membuka poros Jakarta, Hanoi, Beijing dan juga Rusia, pemikiran Bung Besar itu tidak berhentib di bidang politik, tetapi yang lebih penting di bidang ekonomi. Untuk itu agar maju dan berkembang , Indonesia tetap non blok.