Kini Mengalami Cacat Permanen

Pasien Korban Dugaan Malpraktik RS Royal Taruma Mengaku Trauma Setiap di Depan Cermin

Fer | Minggu, 18 Februari 2018 - 20:37 WIB
Pasien Korban Dugaan Malpraktik RS Royal Taruma Mengaku Trauma Setiap di Depan Cermin

JAKARTA (wartamerdeka) -  Muhammad Basyir, pasien yang diduga menjadi korban malpraktik pihak Rumah Sakit Royal Taruma, menyatakan akan terus berjuang mencari keadilan pasca operasi yang menyisakan luka permanen di tubuhnya.

Basyir juga mengatakan akan mengadukan kasus yang dialaminya ke Gubernur DKI Anies Baswedan, dan melaporkan dugaan pidananya ke Polda Metro Jaya. 

Penjelasan Basyir disampaikan kepada wartawan terkait dilayangkannya gugatan dengan nomor perkara 820/Pdt/G/2017/PN.Jkt.Brt di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, terhadap RS Royal Taruma yang berlokasi di Grogol, Jakarta Barat. Pada Selasa (20/2/2018) lusa gugatan yang diajukan Basyir akan memasuki masa mediasi dengan pihak tergugat, yakni Yayasan Tarumanagara Cq RS Royal Taruma, dr Hendradi Khumarga (dokter yang mereferensikan pasien untuk dilakukannya therapy), dr Rudianto Sofyan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI dan Sudin Kesehatan  Kota Administrasi Jakarta Barat. 

"Pihak RS Royal Taruma (tergugat I), dokter Hendradi Khumarga (tergugat II), dr Rudianto Sofyan (tergugat III) dan Dinas Kesehatan DKI sebagai tergugat IV," kata Basyir kepada wartawan di Jakarta, Minggu (18/2/2018).

Basyir berharap kasus malpraktik yang menimpa dirinya di RS Royal Taruma adalah yan terakhir. Selain mengalami cacat permanen, Basyir menyatakan jadi trauma setiap kali berdiri di hadapan cermin. "Luka cacat di tubuh saya membuat saya trauma setiap kali bercermin di depan kaca," papar Basyir yang merupakan pengacara asal Aceh di Jakarta itu.

Karena alasan itu pula, Basyir meminta Gubernur Anies Baswedan segera mengambil tindakan dan langkah-langkah administratif terhadap pihak rumah sakit Royal Taruma. "Saya juga minta agar dokter tersebut dicabut izin prakteknya," pinta Basyir.

Ia berasalasan keberadaan rumah sakit dan dokter yang sembarangan menjalankan tugasnya sangat membahayakan pasien seperti yang menimpa dirinya. "Ini rumah sakit yang segitu megah dan tidak ada fasilitas BPJS, tapi penanganannya tidak sesuai standar. Saya adalah korban, kita bicara bukti. Ini buktinya," ujar Basyir sambil memperlihatkan luka cacat permanen hasil penangann pihak RS Royal Taruma.

Hingga saat ini Basyir mengelus dada dan berharap dari luka yang dialaminya Gubernur DKI Anies Baswedan membuka mata terhadap penderitaan yang menimpa warganya. "Sejak tanggal 14 Oktober 2017 hingga saat ini saya sangat menderita akibat hal ini," imbuhnya.

Basyir menyebutkan pihak rumah sakit sebetulnya sudah menghubungi dirinya untuk pengobatan ulang cacat permanen di tubuhnya. Namun hal itu ditolaknya. "Saya menolak tawaran pihak rumah sakit supaya ada pembelajaran. Kalau saya yang lawyer aja diginikan, gimana masyarakat yang lain," ucapnya dan berharap tidak ada lagi pasien lainnya mengalami hal serupa.

Karena alasan itu pula, Basyir kemudian melayangkan gugatan sebagai bentuk langkah hukum ke pengadilan. Ia menuntut rumah sakit membayar kerugian sebesar Rp10.050.000.000 (sepuluh milyar lima puluh ribu rupiah).

"Saya ingin minta pertanggungjawaban hukuman atas kelalaian pihak rumah sakit agar tidak ada lagi korban malpraktek lainnya," kata Basyir. 

Pihak pengelola RS Royal Taruma Lis, ketika dihubungi  terkait kasus yang mendera Basyir tidak bersedia menjelaskan dengan alasan kasusnya sudah diserahkan kepada kuasa hukum. "Soal ini kasusnya sudah diserahkan ke kuasa hukum, jadi saya tidak berkenan untuk menyampaikan," ujarnya.

Begitu pula, Kepala Dinas DKI Kusmedi ketika dihubungi juga tidak menjawab untuk dikonfirmasikan terhadap dugaan malpraktek yang dilakukan pihak RS Royal Taruma. Telepon genggamnya berdering namun tidak diangkat.


Baca Juga