Lulusan Terbaik Bintara TNI AD Tahun 2017, Ternyata Anak Penjual Buah

Badar | Jumat, 16 Februari 2018 - 07:10 WIB
Lulusan Terbaik Bintara TNI AD Tahun 2017, Ternyata Anak Penjual Buah

JAKARTA (wartamerdeka)  - Serda Agung Hartono tersenyum bahagia di Lapangan Rindam Jaya, Condet, Jakarta Timur, Kamis (15/2) pagi kemarin. Jejaka kelahiran 24 Juni 1999 ini, adalah salah satu dari 153 Bintara muda yang baru saja dilantik oleh Pangdam Jaya/Jayakarta Mayjen TNI Jaswandi, sebagai lulusan  Pendidikan Pertama Bintara TNI AD Tahun 2017. 
 
YANG membuat senyum Serda Agung kian lebar, lantaran ia terpilih sebagai lulusan terbaik. Dan kerimis kecil yang turun di lokasi pelantikan  seakan menjadi kado terindah yang didapatnya.
 
Sebagai lulusan terbaik, Agung pun mendapat kehormatan menerima pengalungan medali dan penyerahan piagam yang dilakukan langsung oleh Pangdam Jaya/Jayakarta Mayjen TNI Jaswandi. Bahkan, setelahnya Pangdam Jaya/Jayakarta pun berfoto bersama Agung dan kedua orangtuanya. Kebahagiaan Agung hari ini pun seakan kian lengkap.


 
Di satu sisi, menjadi lulusan terbaik di lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan TNI AD, jelas merupakan prestasi yang pastinya tidak mudah diraih. Dan perjuangan Agung untuk mewujudkan cita-citanya menjadi  anggota TNI pun tidak mudah. 

Maklum saja, ia lahir dari keluarga yang terbilang sangat-sangat sederhana. Ayahnya, Hartono, hanyalah seorang pedagang buah yang sehari-hari berjualan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sementara ibunya, hanyalah ibu rumah tangga biasa. 
 
Namun hal ini tidak mematahkan semangat Agung mewujudkan mimpinya berseragam loreng. “Dari kecil, saya memang bercita-cita menjadi tentara, karena jiwa pemberani saya dan sifat saya yang haus tantangan,” ujar Agung dengan senyum sumringah.
 


Agung pun tak lupa mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan kedua orangtuanya. Ia pun mengaku bangga bisa dilatih oleh pelatih Secaba Rindam Jaya. Ia pun berharap nantinya bisa masuk ke kecabangan Infanteri. 
 
“Maunya Infanteri, cuma ya nanti apapun keputusan penempatan, itu pasti yang terbaik. Prinsip saya, jangan mau di belakang, harus selalu di depan berbekal semangat dan belajar tanpa kenal lelah untuk menjadi yang terbaik,” singkatnya
 
“Alhamdulillah rejeki anak ini mas, saya sehari-hari cuma tukang buah. Anaknya memang tekun dan kemauan dia, saya hanya mendukung. Dia bungsu dari tiga bersaudara. Kami sekeluarga aslinya dari Semarang. Semoga dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik menjaga Indonesia,” imbuh Hartono yang tak kalah bahagianya, lantaran prestasi yang ditorehkan si bungsu. 
 
Anak Petani dari Sumut Juga Lulus
 
Kebahagiaan yang sama juga dirasakan Mintas Nainggolan dan sang istri. Maklum saja, putranya, Tommi Nainggolan juga menjadi salah satu lulusan Pendidikan Pertama Bintara TNI AD Tahun 2017. 
 
Mintas dan sang istri pun langsung memelukTommi, usai dilantik. “Saya sama mamanya bangga sekali Tommi bisa lulus menjadi tentara Angkatan Darat. Ini memang kemauan dia menjadi tentara. Saya dan mamanya hanya mendukung. Tommi mendaftar dari Jakarta,” kata Mintas haru. Mintas pun sangat berterima kasih kepada TNI AD dan Kodam Jaya/Jayakarta yang telah memberikan kesempatan kepada putranya mengabdi kepada negara dan bangsa. 
 
“Tidak ada uang pelicin atau apalah, ini sudah 3x mencoba dan Puji Tuhan tahun ini lulus. Kami ini hanya petani dari Sidikalang, Sumatera Utara sana. Manalah ada uang kalau harus kasih pelicin. Makanya mamanya menangis ini dia lulus murni. Harapannya, Tommi berbaktilah dan setia pada negara,” tandas Mintas yang bersama sang istri, sengaja datang jauh-jauhdari Sidikalang untuk menghadiri pelantikan putra kebanggaannya itu.
 
Sementara itu, Kapendam Jaya/Jayakarta Letkol Inf. Kristomei mengungkpakan, adanya putra tukang buah menjadi lulusan terbaik, serta anak petani yang lulus menjadi Bintara, menandakan seleksi penerimaan dan pendidikan di TNI AD, khususnya Kodam/Jaya Jayakarta profesional.
 
“Isu-isu di luar sana, mengenai uang pelicin, uang penitip dan sebagainya, itu tidak terbukti. Tidak ada titip, minta tolong. Anak siapa pun, kalau dia mampu dan bisa, maka lulus. Sebaliknya, mau uang satu truk tapi anaknya memang tidak mampu, tidak akan lulus, karena memang tidak bisa,” tegasnya.