Sulitnya Membangun Kembali Irak Setelah Perang

Ar | Rabu, 14 Februari 2018 - 07:10 WIB
Sulitnya Membangun Kembali Irak Setelah Perang

Oleh Dasman Djamaluddin

Irak merupakan sebuah negara Arab berbentuk Republik yang merdeka. Wilayahnya sangat luas, meliputi area 438.446 kilometer persegi. Ibukotanya Baghdad, yang berarti "bundar," karena memang bentuk kotanya bundar. Didirikan di masa ahalla Abbasiyah, yang terletak di pinggiran sebelah Barat dari Sungai Tigris.

Jika terdengar informasi bahwa Irak hancur lebur diserang Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, itu bukan berarti keseluruhan Irak hancur, karena negara itu terdiri dari 15 provinsi dan tiga buah daerah swatantra. Entahlah sekarang, apakah setelah Irak dikuasai AS, pembagian wilayah itu seperti sekarang?

Adalah George Bush (sang ayah) dan anaknya George Walker Bush (sang anak) di dalam foto yang saya unggah dari "reuters," itu, sang ayah di sebelah kiri dan anaknya di tengah.

AS dan sekutunya mulai menyerang Irak pertama kali ketika sang ayah menjadi Presiden AS, tepatnya serangan itu dilakukan pada 17 Januari 1991. Hal itu setelah Presiden Irak Saddam Hussein menyerang Kuwait  pada 2 Agustus 1991 dan mendudukinya beberapa waktu serta menyatakan Kuwait sebagai provinsi ke-19 Irak. AS dan sekutunya berhasil memukul mundur pasukan Irak dari Kuwait.

Kembali ke masalah serangan AS dan sekutunya ke ibukota Baghdad, sejak 17 Januari 1991 hingga 26 Februari 1991. Perang Teluk yang berlangsung enam minggu tersebut resmi berakhir 27 Februari 1991. Presiden Bush mengumumkan seluruh pasukan AS dan sekutunya akan menghentikan operasi-operasi-operasi militer dan di pihak lain, Presiden Irak Saddam Hussein memerintahkan juga pasukannya untuk mematuhi gencatan senjata.

Ketika anak Presiden Bush menjadi Presiden AS, setelah diselingi Presiden Bill Clinton dari Partai Demokrat, maka Partai Republik (Bush yunior) berkuasa lagi. Pada waktu inilah AS dan sekutunya masuk ke Irak dan menumbangkan Penerintahan Saddam Hussein. Ia berhasil ditangkap, ditahan dan dihukum gantung.

Saya menyaksikan dari dekat akibat Perang Teluk di masa Saddam Hussein dan setelahnya. Saya pertama kali ke Irak di bulan Desember 1992 dan bulan September 2014. Setelah Saddam Hussein digantung muncul sebuah gerakan perkawanan di Irak dan Suriah bernama Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Menurut sumber di Baghdad, ISIS di Irak berhasil dihancurkan. Sekarang pertanyaannya, bagaimana membangun Irak kembali?

Berbicara tentang pembangunan kembali Irak, pemerintah Irak untuk mengumpulkan dana hampir $ 100 miliar guna membangun daerah-daerah yang dihancurkan ISIS tampak suram. Hari Senin 12 Februari 2018 dalam sebuah konferensi rekonstruksi internasional yang dimulai di Kuwait pemerintah Irak menyatakan sedang menghadapi tantangan besar dan berbahaya.  Irak berjuang selama lebih dari tiga tahun untuk mengalahkan kelompok ISIS. ISIS pernah menguasai sepertiga wilayah Irak.

Proses ekonomi dan pembangunan, terutama karena negara itu menghadapi serangan teroris paling kuat sehingga pemerintah Irak harus mengubah prioritas dan memulai pembebasan.

Pada saat bersamaan, harga minyak dunia turun, dan keduas hal itu sangat mempengaruhi ekonomi Irak.

Kerusakan di daerah-daerah yang terkena dampak ISIS diperkirakan mencapai $45,7 miliar, menurut sebuah penilaian oleh pemerintah Irak dan Bank Dunia. Biaya pemulihan dan rekonstruksi mencapai lebih dari $88 miliar, pemerintah Irak berharap bisa mengumpulkan $100 miliar untuk mendukung pembangunan dalam sepuluh tahun ke depan.

Tapi harapan bantuan besar telah memudar, karena Amerika pada dasarnya telah mengukuhkan laporan minggu lalu tidak akan menjanjikan dana tambahan lagi. Sumbangan besar dari negara-negara Teluk Arab yang kaya juga tidak tampak. Hanya sebuah harapan, semoga saja Irak bisa pulih setelah perang.