The Mad Man Politic Theory

Ar | Selasa, 13 Februari 2018 - 21:31 WIB
The Mad Man Politic Theory

Oleh Andry Wibowo *) 

Scot Sagan seorang ilmuwan politik Amerika memperkenalkan tentang “Mad Man Theory of Politic“.

Hypotesa ini dibangun dalam pengamatannya terhadap perilaku pemimpin Amerika Serikat Richard M Nixon Sehubungan dengan kondisi era Perang Dingin Blok Soviet (Komunis) dan Blok Barat (Demokrasi).

Kebijakan ini bersifat Coercive, intimidatif dan provokatif untuk merebut pengaruh dan mempengaruhi perilaku bangsa-bangsa yang dianggap pariah untuk ikut atas kebijakan-kebijakan kelompok atau group dominan.

Membangun isu-isu yang seksi yang dapat menjadi musuh bersama (Kelompok ) untuk menjadi objek propaganda sekaligus memobilisasi dukungan massa (Crowds).

Dari perspektif rational Choice Theory, The Mad Man Politic Theory adalah proyek politik yang ambisius atas obsesi pribadi (Kelompok ) dan beresiko tinggi (Dangerous).

Dalam konteks politik internasional kontemporer dapat dilihat pada problem kepemimpinan Korea Utara (Kim Jong Un) dan Amerika (Donald Trump) yang berseteru secara terbuka melalui kalimat kalimat konfrontatif terbuka dengan menggunakan isu nuklir yang dimiliki kedua kubu.

Mad Man Politic Theory seperti ini umumnya digunakan oleh kelompok atau individu yang merasa dirinya Super Power Atas Individu atau kelompok lain.

Elites (individu dan kelompok) umumnya berasal dari kelompok kelompok-kelompok yang menganut superioritas bersifat inklusive, atas nilai-nilai Patrimonialisme yang melekat dan lahir dari pengalaman panjang kekuasaan

Ide maupun struktur atau merujuk pada pengalaman masa lalu kepemimpinan bangsa atau kelompoknya, seperti kebijakan Dwight Eisienhower dalam Perang Korea yang menjadi rujukan Richard M Nixon dalam Perang Indochina.

Seorang penganut The Mad Man Theory memiliki obsesi pribadi yang dicangkokan dengan kepentingan kelompok untuk menyelesaikan problem-problem ambisi kekuasaan pribadi dan kelompoknya, pada rivalitas politik kontekstual atau pada zamannya.

Isu-isu emosional akan menjadi senjata (Arsenal) untuk mempengaruhi orang lain untuk ikut pada ambisi politiknya.
Isu-isu emosional akan selalu digunakan sebagai wujud jalan pintas mencapai tujuan dan obsesi politiknya.

Rasionalitas akan ditinggalkan bagi penganut “The Mad Man Theory“ ini. Sehingga hal ini sangat ditentang oleh mereka yang mengedepankan rasionalitas dalam mengambil kebijakan dan operasional politik.

Pada Kenyataannya, The Mad Man Politic Theory menjadi inspirasi bagi banyak politikus di dunia.

Relasi kuasa politik diberbagai belahan dunia, tidak selamanya berjalan pada kondisi yang sehat.

Kontestasi dan konflik kuasa selalu mewarnai dalam perjalanan perubahan-perubahan kepemimpinan politik.

Indonesia sebagai negara demokrasi yang baru tumbuh dalam era globalisasi dan demokratisasi tidak terlepas dari penggunaan berbagai cara (rasional dan irrasional) dalam berkompetisi menjadi individu dan kelompok berpengaruh.

Problemnya adalah masyarakat Indonesia yang sangat heterogen dalam struktural sosial serta multikultur dalam nilai dan kebudayaan, rentan atas konflik horizontal jika “The Mad Man Theory “ ini digunakan sebagai Idea para tokoh politik lokal maupun nasional.

Kerangka politik nasional Indonesia, tentunya, berada pada atas batas konstitusi dan pancasila sebagai nilai atau norma.

Pendekatan collective idea sebagai satu bangsa yang lahir dan disepakati seharusnya harusnya menjadi pijakan rasional tokoh tokoh politik lokal dan nasional.

Negara dan kelangsungan peradaban luhur Indonesia sebagai asal, proses dan tujuan berpolitik harus diutamakan dari sekedar kekalahan dan kemenangan politik.

Demokrasi Indonesia bukanlah demokrasi perang “War Democracy“ berskala lokal atau nasional.

Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi Beradab (Peacefull and Civilized Democracy) yang lahir dari kehendak bersama, bekerja bersama dan dengan prinsip- prinsip kebangsaan Indonesia untuk membangun Indonesia yang maju untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan 1945 yaitu mensyukuri nikmat Tuhan atas kemerdekaan bangsa dan Tanah Air Indonesia, melalui pembangunan untuk menuju bangsa yang egaliter dan dihormati oleh kekuatan bangsa lain di Dunia.

*) Penulis Perwira Menengah di Bareskrim Polri


Baca Juga