Hari Revolusi Islam Iran

Ar | Minggu, 11 Februari 2018 - 16:12 WIB

Hari Revolusi Islam Iran

Oleh Dasman Djamaluddin

Hari ini, tepat 11 Februari 2018, Pemerintah Iran mengeluarkan foto sebagaimana di atas, di mana berjuta-juta rakyat Iran memenuhi jalan-jalan utama, memperingati 39 tahun Revolusi Islam Iran tahun 1979.

Revolusi Islam di Iran pada 11 Februari 1979 mengingatkan pada perubahan besar-besaran di negara tersebut. Munculnya seorang tua renta berusia 80 tahun di tengah-tengah masyarakat Iran yang baru saja pulang dari pengasingannya di Paris, Perancis,  di luar perkiraan. Apa lagi waktu itu pas di landasan udara, jumlah pasukan keamanan Iran di bawah komando Shah Iran, Mohammad Reza  Pahlevi  sedang bersiap-siap dengan senjatanya. Semua saksi mata yang melihatnya cemas. Boleh jadi Khomeini yang tua renta dan disebut sebagai Imam oleh Muslim Syiah, tergeletak di landasan pacu Bandara.

Detik demi detik berlalu. Pesawat dari Paris itu mendarat dengan mulus di Bandara, Iran. Terlihat raut wajah Imam Khomeini dengan janggutnya yang semuanya putih itu, tenang dan penuh kedamaian. Inilah awal Revolusi Islam di Iran yang berhasil menjatuhkan dinasti Syah (Shah) Reza Pahlevi, sekaligus juga mengakhiri pemerintahan monarki yang berdiri sejak tahun 1906.

Sudah tentu jika berbicara Khomeini, ingatan kita tertuju kepada seorang penulis Inggeris keturunan India, Salman Rusdhie tahun 1989. Waktu itu Khomeini sangat marah kepada penulis tersebut karena telah menghina Nabi Muhammad SAW melalui tulisannya  The Satanic Verses. Ia menyerukan agar Salman Rushdie dihukum mati.

Khomeini juga sangat anti Barat. Di dalam sebuah pidatonya, ia menegaskan, ...seandainya Muslimin yang jumlahnya 700 juta bersatu, niscaya Amerika tidak akan mampu bergelimang dalam berbagai kejahatan...Seandainya setiap Muslim menuangkan satu bejana air di atas Israel, maka sudah tentu terjadi banjir besar yang akan memusnahkan mereka.”

Bagaimana pun juga Revolusi Islam Iran dikhawatirkan oleh pihak Barat dan Israel. Apalagi setelah Iran mendukung kelompoknya di Suriah dan Irak, di mana jelas-jelas bertentangan dengan kemauan AS dan Israel. Dengan munculnya dukungan Rusia terhadap Iran, juga kelompok  Islam Syiah di Suriah dan Irak, maka peta perpolitikan di Timur Tengah pun telah berubah.

Pencetus Revolusi Islam Iran itu, Imam Khomeini telah meninggal dunia pada 3 Juni 1989.  Jadi tidak begitu lama ia menikmati hasil revolusi yang diciptakannya, namun demikian, rakyat Iran sekarang ini betul-betul mandiri, bisa memproduksi hasil karyanya sendiri. Berdikari (Berdiri  di atas Kaki Sendiri) yang dikumandangkan Presiden pertama RI, Soekarno  dan pernah menjadi konsep Indonesia di masa lalu, kini  diterapkan sebaik-baiknya oleh Iran.

Revolusi Islam Iran sering pula disejajarkan dengan revolusi besar ketiga dalam sejarah, setelah Perancis dan Revolusi Bolshevik. Tetapi revolusi ini ternoda sejak Husain Mousavi, calon presiden yang kalah berseteru dengan Menteri Dalam Negeri Iran,  Sadegh Mahsouli, sekutu Ahmadinejad yang berakibat mundurnya Ali Akbar Hashemi Rafsanjani dari kursi parlemen, 25 Mei 2000. Seperti kita ketahui Rafsanjani adalah pengikut setia Imam Khomeini.

Meski ada konflik-konflik kecil, tetapi  hal tersebut tidak sampai memecah belah persatuan Iran, karena dasar berpijak Revolusi Islam tidak lepas dari figur kepemimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini, yang juga dianggap sebagai Imam. Struktur Imam dalam masyarakat Iran yang 93 persen menganut aliran Syiah (Shiah) merupakan penutan yang berlangsung  turun temurun. Menurut mereka, meskipun imam-imam yang memimpin revolusi telah berusia lanjut,  tetapi mereka adalah seorang ulama berpikiran cemerlang dan kharismatik yang dengan pengaruhnya mampu memimpin rakyat  dari sebuah tempat jauh  ribuan kilometer.

Aliran Islam Syiah sejak Abad ke-16 Masehi telah menjadi agama resmi di Iran. Pada tahun 1910 ketika sidang parlemen Iran dibuka, mereka melakukan upacara penghormatan terhadap kehadiran simbolik seorang Imam yang sedang dalam keadaan khufyah (tidak menampakkan diri).

Kepercayaan terhadap kharismatik Imam inilah yang membuat Iran tidak  mungkin terpecah belah dengan munculnya berbagai aliran dalam masyarakat, seperti konservatif, moderat maupun reformis. Kalau pun terjadi berbagai perbedaan, hal itu lebih dititik-beratkan kepada masalah-masalah teknis, sebagaimana perbedaan antara aliran  Islam Syiah (Shiah) dan Sunnah (Sunni).

Ketika saya ke Irak pada bulan  September 2014, karena situasi masih tidak menentu, saya diajak oleh Kedutaan Besar RI di Baghdad untuk mengunjungi Masjid Al-Kufah (Kufa). Ini adalah masjid Ali r.a dan dulunya beliau berkantor tidak jauh di samping masjid tersebut. Apa yang saya lihat? Faktanya memang masjid tersebut milik Syiah, karena mayoritas penduduk Irak adalah Muslim Syiah. Tidak berbeda dengan Iran. Hanya ketika  Presiden Irak, Saddam Hussein berkuasa di Irak,  saya menganggapnya sebuah keberuntungan, karena Saddam yang Sunni bisa memerintah penduduk Irak, mayoritas adalah Islam Syiah.

Perbedaan keduanya  hanya dalam hal siapa yang nanti menjadi Khalifah jika Nabi Muhammad SAW wafat.  Sebuah kelompok yang nantinya menjadi kelompok Islam Syiah menghendaki jika Nabi wafat diganti oleh Ali r.a. Yang terjadi adalah  Abu Bakar r.a  menjadi khalifah berdasarkan pemilihan. Seterusnya ke  Umar r.a dan Utsman r.a. Kelompok Syiah tersebut tidak mau mengakui Abu Bakar, Umar dan Utsman r.a. Mereka hanya mengakui Ali r.a yang sebetulnya lebih berhak  menjadi Khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Di dalam buku M.Quraish Shihab berjudul Sunnah-Syiah diterbitkan oleh Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran, Juni 2014 terlihat sangat jelas persamaan dan perbedaan tersebut. “Sama halnya dengan Persatuan, perbedaan adalah suatu keniscayaan !,” ujar Quraish Shihab.


Baca Juga