Ganjar Pranowo: Perawat Sumeh, Pasien Tak Tambah Stres

Agus | Sabtu, 10 Februari 2018 - 11:50 WIB
Ganjar Pranowo: Perawat Sumeh, Pasien Tak Tambah Stres

MAGELANG (wartamerdeka) – Pasien tidak hanya memerlukan penanganan medis agar dapat lekas sembuh. Dalam kondisi sakit, mereka juga memerlukan dukungan moral sehingga pasien bersemangat untuk kembali sehat.

Seperti diberitakan oleh situs resmi milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP menyampaikan peran perawat sangat penting dalam menunjang kesembuhan pasien. Karenanya, mereka dituntut selalu ramah saat berinteraksi dengan pasien sebagai wujud dukungan moral tersebut.

“Setidaknya kalau sedang sakit itu ketemu perawat yang sumeh. Sudah sakit, mlebu rumah sakit, ana sampah infus, ambune obat, perawate ora sumeh, malah (pasien) tambah stres. Tetapi saya kira bentuk-bentuk seperti itu sudah tidak ada lagi di rumah sakit. Rumah sakit sekarang tamannya bagus, perawatnya menyenangkan,” ujarnya saat menghadiri Rapat Koordinasi Dewan Pengurus Wilayah PPNI Jawa Tengah Beserta DPD dan DPK Se-Jawa Tengah, di Hotel Puri Asri Magelang, Jumat malam (9/2/2018).

Mantan anggota DPR RI itu meminta, perawat Jawa Tengah yang kini jumlahnya berkisar 60 ribu orang senantiasa meningkatkan profesionalitasnya. Termasuk meningkatkan kesadaran mereka terhadap tren penyakit yang muncul di sekitarnya. Dengan kesadaran tersebut, perawat diharapkan juga dapat melindungi keluarganya dari ancaman penyakit.

“Gawat lho kalau perawat kurang piknik. Nggak tahu di sekitarnya sedang banyak penyakit apa. Kita masing-masing harus meningkatkan profesionalitas kita. Anda merawat orang yang sakit. Tapi Alhamdulillah kalau Anda juga merawat orang yang sehat, paling tidak keluarga Anda yang ada di rumah,” pesannya.

Ganjar juga mengingatkan jika perawat harus benar-benar peduli dengan perkembangan penyakit yang ada di Jawa Tengah. Seperti HIV/AIDS, kusta, malaria, dan lainnya.

“HIV/AIDS jadi perhatian kita. Pengidap HIV/AIDS ternyata malu lapor. Kalau mereka nggak mau terbuka, kita nggak tahu apa lagi yang terjadi. Kusta juga masih ada.  Alhamdulillah meski ada beberapa kasus yang ditemukan, seperti diare yang diderita balita dan ISPA, tapi itu berhasil dibereskan,” tegasnya.

Ganjar bersyukur, program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng berhasil menekan angka kematian ibu melahirkan (AKI) yang terbilang tinggi. Hal itu karena tenaga kesehatan dan masyarakat dari berbagai elemen, termasuk PKK, peduli dan bersinergi untuk mendampingi para ibu hamil, khususnya yang berisiko tinggi.

“Saya senang betul kita membuat program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng , angka kematian ibu melahirkannya menurun melampaui target MDG’s. Artinya banyak orang mau cerewet untuk peduli,” pungkasnya.