Industri Kecil Menengah Tumbuh Dua Kali Lipat Dari Tahun Lalu

Fer | Jumat, 09 Februari 2018 - 21:46 WIB
Industri Kecil Menengah Tumbuh Dua Kali Lipat Dari Tahun Lalu Dirjen IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih

JAKARTA (wartamerdeka) - Produk-produk IKM (Industri Kecil Menengah) lokal kita semakin meningkat serta menumbuhkan perdagangan melalui e-commerce. Pemerintah menargetkan bisa membawa 20 IKM untuk menjadi startup. Angka ini dua kali lipat lebih besar dibanding tahun lalu yang berhasil mencetak sembilan IKM sebagai startup.

“Tahun 2014, kami bawa lima IKM jadi startup. Di tahun2015 ada delapan IKM jadi startup, dan 2016 naik menjadi 11 IKM yang kami bawa jadi startup,” ungkap Dirjen IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih, Jumat (9/2/2018).

Guna mewujudkan sasaran tersebut, Kemenperin memiliki program strategis untuk mengedukasi para pelaku IKM nasional agar mampu memasarkan produknya melalui marketplace. “Kami sudah membuat platform digital, yang dinamakan e-Smart IKM. Program ini dimulai sejak tahun lalu sebagai sarana perluasan pasar IKM kita,” ujar Gati. 

Dalam program pembinaan pelaku IKM, kata Gati, Kemenperin juga bekerjasama dengan PT Ruang Raya Indonesia (ruangguru.com) tentang peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sektor industri melalui pemanfaatan teknologi informasi digital.

“Salah satunya melalui pembinaan program e-Smart IKM. Kerja sama melalui pemanfaatan konten digital ini diharapkan dapat meningkatan efektivitas program pengembangan industri,” ujarnya

Hal senada disampaikan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, melalui platform Ruangguru, pemerintah akan terus mendorong pembangunan kapasitas SDM lokal termasuk dalam pengembangan IKM supaya semakin produktif dan berdaya saing.

“Indonesia sebagai negara ke-9 yang kontribusi sektor manufakturnya terbesar di dunia, sudah waktunya e-marketplace diisi oleh produk-produk dalam negeri,” ujar Airlangga.

Menurut Menperin, tahun depan merupakan tahunnya ekonomi di Asean, dengan didorongnya digital connection dan Indonesia sebagai hub atau menjadi core digital yang memacu produk-produk IKM bisa meramaikan pasar Asean dengan potensi mencapai 500 juta jiwa.

Berdasarkan data Kemenperin, pertumbuhan IKM terus mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini terlihat dari jumlah unit usaha IKM yang terus meningkat, di mana tahun 2015 berada pada angka 3.68 juta IKM, naik menjadi 4.41 juta IKM tahun 2016.

Berdasarkan triwulan II tahun 2017, telah mencapai 4.59 IKM. Sementara, nilai tambah IKM dari tahun ke tahun juga terus mencatatkan angka yang positif. Tahun 2015, nilai tambah IKM sebesar Rp 439.86 triliun, naik menjadi Rp 510.88 triliun di tahun 2016, dan pada triwulan II 2017 mampu mencapai Rp 540.88 triliun.

Virtual IKM

Kementerian Perindustrian tengah giat mendorong para industri kecil dan menengah (IKM) untuk memasarkan produknya di marketplace. Sejalan kebijakan itu, Direktorat Jenderal IKM Kemenperin telah membuat infrastruktur sarana perluasan pasar e-Smart IKM yang telah dimulai pada tahun lalu.

Sementara, sembilan komoditas unggulan yang didorong masuk ke dalam e-Smart IKM, yaitu makanan dan minuman, logam, kosmetik, perhiasan, kerajinan, herbal, suku cadang kendaraan, furnitur, dan fesyen.

“Kami akan mengembangkan industri yang memiliki bahan baku lokal,” ungkap Gati.

Dalam implementasi program e-Smart IKM, Kementerian Perindustrian menjalin kerja sama dengan beberapa marketplace lokal, antara lain BliBli, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan Blanja. Sepanjang tahun 2017, sebanyak 1736 IKM telah mengikuti workshop e-Smart IKM.

Pada 2018, ditargetkan bisa mencapai 4000 IKM dan bertambah hingga 5000 IKM tahun 2019. “Nantinya sarana infrastruktur perluasan pasar e-Smart IKM diharapkan menjadi ‘Virtual Sentra IKM’ yang akan meningkatkan daya saing produk serta mempermudah akses pasar dalam negeri maupun global,” papar Gati.

Daya Saing

Gati mengatakan, e-Smart IKM memberikan jaminan produk, jaminan keamanan dan jaminan standard. “Konsep dari pembinaan e-Smart IKM ini kami balik dari hilir ke hulu. Jadi, melihat pasarnya dahulu, kemudian mengetahui apa yang diproduksi,” jelasnya.

Program e-Smart IKM ini disampaikannya diyakini akan meningkatkan daya saing IKM nasional agar semakin kompetitif di kancah internasional. Untuk itu, adanya serbuan produk impor yang beredar melalui pasar online saat ini.

Gati juga menjelaskan, melalui workshop e-Smart IKM, peserta dibekali pelatihan selama dua hari meliputi pengetahuan untuk peningkatan daya saing dan produktivitas usahanya serta sosialisai fasilitas yang bisa diakses dari Kemenperin.

Menurutnya, materi tersebut berupa informasi mengenai kredit usaha rakyat (KUR) yang bekerjasama dengan BNI dan memperkenalkan teknis akunting sederhana dari Bank Indonesia bagi IKM agar mereka bisa memperoleh KUR.

Di hari kedua, peserta workshop e-Smart IKM juga diberikan pengetahuan tentang cara foto produk, mengunggah foto dan cara berjualan di marketplace. Gati menambahkan, pembinaan program e-Smart IKM itu tidak berhenti pada dua hari workshop saja.

“Kepada para IKM yang hasil produksinya belum laku di marketplace, pemerintah akan melakukan pembinaan lanjutan berupa pelatihan SDM, pendampingan proses produksi, desain produk dan kemasan, serta bantuan mesin dan peralatan melalui program restruksturisasi,” jelasnya.