Menyongsong Hari Pers Nasional

Pak Harmoko, di Manakah Anda Sekarang?

Sumber : selasar.com | Senin, 05 Februari 2018 - 08:58 WIB
Pak Harmoko, di Manakah Anda Sekarang? Harmoko, mantan Menteri Penerangan yang juga wartawan kawakan

Oleh Dasman Djamaluddin 

KETIKA massa ingin masuk ke gedung MPR/DPR RI dalam aksi unjuk rasa baru-baru ini, pikiran saya langsung ingat Pak Harmoko. Di manakah bapak sekarang?

Sudah tentu ingatan kita tertuju kepada saat aksi unjuk rasa di gedung ini waktu lalu saat tumbangnya pemerintahan Presiden Soeharto dan menyerahkan jabatannya kepada BJ Habibie. Tak disangka-sangka pemerintahan yang sudah dipegang Pak Harto selama 32 tahun tumbang.

Nama Pak Harmoko waktu itu dihujat karena dia dianggap bertanggungjawab atas turunnya Pak Harto. Pada waktu itu Pak Harmoko menjabat sebagai Ketua MPR/DPR RI.

Beliau pula pada saat-saat kritis itu meminta Pak Harto mundur. Karena maraknya aksi unjuk rasa di berbagai daerahd bekisu dengan berani meminta agar Pak Harto mundur. Gedung MPR/DPR diduduki para pengunjuk rasa menuntut agar Pak Harto mundur. Mereka tidak akan pulang sebelum Pak Harto mundur.

Secara resmi, Pak Harmoko sebagai Ketua MPR/DPR RI dan wakil-wakilnya menyarankan agar Pak Harto mundur saja. Pak Harto pun mundur dan jabatan Presiden RI diserahkan kepada wakilnya Pak B.J. Habibie.

Aksi demo berakhir dengan meluapkan rasa gembiranya di Gedung MPR/DPR. Mereka memenuhi puncak gedung yang setengah melingkar itu, bahkan ada yang menceburkan kegembiraannya di kolam di depan gedung tersebut. Era baru telah dimulai. Era Reformasi.

Pada saat itu saat sulit menentukan pilihan untuk Pak Harmoko. Pada saat bersamaan ia memimpin wakil-wakil rakyat.Wakil rakyat menghendaki agar Pak Harto mundur. Tidak ada jalan lain, sebagai pimpinan, maka Pak Harmoko harus mengikuti kehendak wakil-wakil rakyat. Itu pada satu sisi.

Pada sisi yang lain, siapa yang tidak tahu kedekatannya kepada Pak Harto. Ungkapan yang selalu muncul waktu itu ketika sebelumnya menjabat Menteri Penerangan RI, "Sesuai petunjuk Bapak Presiden." Pak Harmoko adalah "kesayangan" Pak Harto saat itu.

Turunnya Pak Harto memang memunculkan hal-hal yang tidak enak di telinga anak didiknya itu. Harmoko dianggap penghianat. Bahkan Harmoko tidak diizinkan bertemu dengan Pak Harto ketika sedang menjenguknya ke rumah sakit. Saya menganggapnya bahwa inilah politik. Tidak ada persahabatan sejati, yang ada adalah kepentingan.

Setelah itu Pak Harmoko tidak pernah muncul di depan umum. Terakhir yang saya dengar di usianya 77 tahun ini, ia dikabarkan sakit. Saya menyebutnya alamiah.

Siapa pun pasti mengalami sakit di usia tua. Jika ada kalimat yang diucapkan "Alhamdulillah, sehat," bukan berarti sehat semasa di usia 40 tahun. Sehat, tetapi sering cek kesehatan di rumah sakit.

Saya sebagai mantan wartawan harian Merdeka, bersyukur bertemu Pak Harmoko ketika diselenggarakannya reuni awak pers Grup Merdeka Jalan AM Sangaji 11 Jakarta Pusat, pada hari Minggu, 24 April 2016 di Situ Gintung, Ciputat.

Beliau sangat senang dan dari wajahnya terpancar suatu kebahagiaan, meski duduk di kursi roda. Kepada saya, ia menitip beberapa lagu kenangan untuk dititipkan kepada penyanyi yang melantunkan lagu.

Pak Harmoko bukanlah asing buat para mantan awak Merdeka, karena awal menjadi wartawan selepas SMA adalah menjadi wartawan di harian pimpinan almarhum Pak B.M. Diah tersebut.

dKtKGwi-IrnCS-T90CrVgoGQZOcFPQwl.jpg

Foto : Penulis (kiri) berfoto bersama Pak Harmoko di Situ Gintung, Ciputat.

Ya, karena beliau ketika pertama ke Jakarta melamar menjadi wartawan Merdeka.

rh51e4DFuc01Hr5hnwBL4Rta90uEw5gn.jpg

Harmoko menulis pengalamannya di buku Aku Wartawan Merdeka ketika pertama kali ke Jakarta. Pertama bekerja di harian Merdeka, pimpinan B.M. Diah.

Sumber gambar 1: nasional.kompas.com
Sumber gambar 2: penulis
Sumber gambar 3: bukapalak.com