Cerita Mahasiswi Studi di Paris, Rindu Kampung Halaman 

DANS | Senin, 05 Februari 2018 - 07:16 WIB
Cerita Mahasiswi Studi di Paris, Rindu Kampung Halaman  Widya Putri Siagian (tengah) saat Natal di Gereja Indonesia IFGF Paris

JAKARTA (wartamerdeka) - Sendiri dirantau orang, bisa membuat rindu tak tertahankan, apalagi saat Natal dan Tahun Baru tiba.

Itulah yang dirasakan M. Widya Putri Siagian, saat pertama kali mengalami kesendiriannya di Paris pada Natal 2017 lalu. Putri yang berasal dari Jakarta itu sedang menjalani studi S-2 (Strata Dua) Master in Management di HEC Paris, dengan fasilitas Beasiswa Eiffel Scholarship dari Pemerintah Prancis. 

“Natal 2017 kemarin adalah Natal pertama saya di Perancis. Jauh dari orang tua dan sanak saudara di Jakarta, kata Putri kepada wartamerdeka.net, akhir Januari 2018 lalu lewat komunikasi jarak jauh.

Diakui Putri, kerinduannya untuk kumpul bersama keluarga sangat terasa ketika menyambut Natal dan Tahun Baru, karena jauh dari orang tua dan sanak famili.

“Apalagi bagi keluarga saya yang keluarga Kristen dan keluarga Batak, Natal dan Tahun Baru sering kali merupakan ajang berkumpul bersama keluarga. Oleh karena itu saya memang merasa 'homesick', ungkap Putri yang tinggal di Jouy en Josas, Zona 4, Paris itu.

Suasana Natal di Notre Dame Paris

Dikatakan Putri, memang sebelumnya tahun 2014 ia juga berada di luar negeri, di Tokyo Jepang, melalui kuliah program pertukaran pelajar, yang juga beasiswa dari pemerintah Jepang.
 
"Memang ini Natal kedua kalinya saya di luar negeri. Dulu tahun 2014 di Tokyo, saya merayakan Natal dengan teman-teman dari negara lain juga. Baik tahun 2014 maupun tahun 2017 lalu, perasaan sama saja. Sangat rindu keluarga di rumah, dan Keluarga Besar Siagian di Indonesia," bebernya.

Ditanya bagaimana mengatasi kerinduannya, Putri yang berangkat tahun lalu ini mengatakan, untuk mengatasi rasa kangen rumah dan keluarga, dia merayakan Natal bersama dengan teman-teman dekatnya yang berasal dari Indonesia. 

“Di sekolah saya ini, saya adalah mahasiswa Indonesia satu-satunya. Oleh karena itu saya sering berkumpul dengan PPI Paris (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Paris). Begitu juga saat merayakan Natal kemarin. Saya merayakan Natal bersama teman-teman Indonesia di gereja Indonesia, dan juga di Notre Dame, gereja terbesar di Paris. Sehingga benar-benar terasa Natal versi Indonesianya, dan bisa mengobati rasa ‘homesick’ saya," paparnya.

Putri juga menceritakan situasi Paris yang ketika Natal sedang musim salju, dan sinar matahari hanya sebentar saja. 

Foto: Keluarga yang dirindukan di rumah

"Cuaca sangat dingin. Mataharipun bersinarnya hanya beberapa jam, kemudian sudah gelap lagi. Namun dengan demikian, Natal di luar negeri semakin berasa Natal, karena ada salju," terangnya.

Dalam mengikuti perkuliahan, menurutnya ia dapat mengikuti dengan baik, karena programnya berbahasa Inggeris. Sedangkan sekolah bisnis tempat ia kuliah itu adalah nomor 1 di Perancis, nomor 1 se Eropa, bahkan nomor 5 se dunia. 

Penyakit homesick sering dialami oleh para mahasiswa yang merantau jauh atau terpisah dari rumah, keluarga, lingkungan dan teman-teman sebelumnya, apalagi ke luar negeri. Salah satu yang sering dicemaskan adalah, nggak punya teman senegara untuk berinteraksi. 

Hal senada pernah dialami Asheila Amara, mahasiswi jurusan Animasi di Westminster University, London, Inggris. 

Namun setelah tahu ada PPI (Perkumpulan Pelajar Indonesia) London, cewek yang akrab disapa Eya ini jadi jauh lebih tenang untuk menetap sementara demi menempuh pendidikan di negeri ratu Elizabeth itu. 

"Awalnya aku cemas sih sendirian gitu di negara orang, tapi saat aku tau ada perkumpulan mahasiswa asal Indonesia, paling nggak aku nggak ngerasa sendirian di sini, banyak temen-temen seperjuangan hehe," tutur Eya dikutip dari laman kuliah di luar negeri.

Di beberapa kampus, seperti di Asia-Pacific University Jepang, pun ada organisasi pelajar Indonesianya, APUINA namanya.  Layyin Nafisa Arifin salah satu mahasiswinya yang cerita. Dengan adanya perkumpulan tersebut, calon mahasiswa nggak akan lagi ngerasa asing’ dan sendiri di negara tersebut.