Hari Pers Nasional dan Sejarah Harian Merdeka

Ar | Sabtu, 03 Februari 2018 - 07:43 WIB
Hari Pers Nasional dan Sejarah Harian Merdeka

Oleh Dasman Djamaluddin

TANGGAL 9 Februari selalu diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk tahun 2018 ini akan diperingati di Sumatera Barat (Sumbar). Banyak tokoh-tokoh pers dilahirkan dari daerah ini, di antaranya almarhum Rosihan Anwar.

Memperingati HPN kali ini, saya membolak balik halaman sebuah buku berjudul: "Ditugaskan Sejarah, Perjuangan Merdeka 1945-1985," diterbitkan oleh Pustaka Merdeka, 1987. Tim Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) terdiri dari JR Chaniago, Kasijanto, Erwiza Erman dan M Hisyam dan dibantu Panitia Pengarah terdiri dari B.M.Diah, Herawati Diah dan Abdurrahnan Surjomihardjo,  ikut menyempurnakan isi buku tersebut.

Buku setebal 146 halaman ini disusun secara sistimatis, mulai dari "Lintas Pemikiran Politik Merdeka," hingga "Merdeka dalam Era Pembangunan."

Awal minggu kedua bulan Februari 2018 ini, Penerbit Buku "Yayasan Pustaka Obor," milik almarhum Mochtar Lubis, wartawan kawakan Indonesia, juga akan menerbitkan buku rekannya sesama wartawan kawakan Burhanudin Mohamad (B.M) Diah, berjudul: "Catatan B.M Diah Seputar Lahirnya Proklamasi 17 Agustus 1945."

Sudah tentu kita akan diajak mengenal sosok B.M Diah sebagai seorang pemuda waktu sebelum Proklamasi Kemerdekaan mendirikan dan mengetuai sebuah organisasi bernama "Angkatan Baru '45."Bagaimana semangat pemuda-pemuda yang dipimpin B.M Diah untuk segera mendesak Soekarno-Hatta, segera memerdekakan bangsa dan negara Republik Indonesia ini.

B.M Diah telah memasuki tahun ke 22 meninggalkan kita. Senin, 10 Juni 1996, pers Indonesia digayuti awan hitam. Pers Indonesia berkabung dengan perginya seorang tokoh pers, sekaligus angkatan muda di masa revolusi, Burhanudin Mohamad Diah (79) atau namanya yang sering disingkat B.M Diah.

Lahir di Kotaraja, Aceh, yang sekarang bernama Banda Aceh, pada 7 April 1917. Harian Merdeka yang terbit pada hari duka itu, khusus di halaman Dr.Clenik yang sering ditulis BM Diah, diwarnai tinta hitam,sebagai tanda turut berkabung.

Harian Republika, edisi Selasa, 11 Juni 1996 membuat judul: Wartawan Pejuang itu telah Tiada. Di sana dipaparkan pula kesedihan keluarga BM Diah, isteri BM.Diah, Herawati Diah dan tiga anaknya Adyaniwati Tribuana Said, Nurdianawati W.Rohde, dan Nurman Diah.

Seiring dengan wafatnya B.M Diah, perjalanan Harian Merdeka ikut terseok-seok dan kemudian tenggelam. Kini tidak ada lagi kop surat kabar berlogo merah darah, yang boleh dikatakan tidak bisa lepas dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Ia terbit pada tanggal 1 Oktober 1945, hanya satu setengah bulan setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Terbit pada saat bangsa Indonesia tengah berjuang merebut periuk nasinya sendiri dari tangan penjajah, pada saat suatu bangsa tengah berusaha menegakkan suatu negara republik yang bernama Indonesia.

Buat saya, mengingat B.M Diah samalah artinya mengingat perjalanan jurnalistik pertama di Kelompok Penerbitan Merdeka, Majalah Topik (Redaktur Pelaksana) dan Harian Merdeka (Redaktur Luar Negeri).

Pada saat saya sebagai Redaktur Luar Negeri Harian Merdeka, selain menyelesaikan tugas rutin sehari-hari, saya berhasil pula menyusun buku "Butir-Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992)."

Wajah BM Diah ceria sekali ketika saya menyelesaikan buku tersebut. Buku ini selesai, saat BM Diah memasuki usia 75 tahun. Peluncuran buku ini diselenggarakan pada Ulang Tahun Harian Merdeka ke-47 dan Indonesian Observer ke-37 dan diperingati di Grand Hyaat Hotel, Jakarta.

Buku B.M Diah terbit, beliau memanggil saya ke ruangannya dan mengatakan, apakah Bung Dasman ingin berjalan-jalan ke Amerika Serikat? Saya menjawabnya, jika bisa perjalanan saya tidak sekedar berjalan-jalan, tetapi dikaitkan dengan tugas jurnalistik. Tetapi tidak ke Amerika Serikat, namun ke Irak melalui Uni Soviet. Beliau setuju.

Kenapa saya berpikiran harus ke Uni Soviet? (nama waktu itu. sekarang, Rusia). Bagaimanapun B.M Diah pernah menganggap wawancara khususnya dengan Mikhail Gorbachev, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet di Kremlin pada 21 Juli 1987 sebagai mahkotanya sebagai wartawan, karena diliput dan dikomentari oleh berbagai pers dan disambut baik oleh tokoh dunia. Misalnya, Rajiv Gandhi, Perdana Menteri India waktu itu.

Selanjutnya surat agar diundang ke Irak, saya tulis. Tetapi setelah dibaca B.M Diah, isinya kurang berkenan di hatinya. Ia pun menulis surat untuk saya. Setelah itu baru diberikan kepada sekretarisnya Eveline untuk dikomputerisasi.

Bagaimana pun B.M Diah lebih suka menulis di mesin ketik, bukan di komputer. Hal ini juga dilakukan oleh Rosihan Anwar, wartawan Harian Pedoman. Sebelumnya Rosihan Anwar pernah bergabung di Harian Merdeka.

Orang-orang seperti BM Diah atau Rosihan Anwar tidak mau idenya langsung hilang jika sedang menulis, seperti listrik mati, sehingga ide awal hilang sama sekali. Itu sering terjadi jika menulis di komputer.

Setelah B.M Diah menulis surat kepada Duta Besar Irak di Jakarta, Yang Mulia Zaki al-Habba, agar mengundang sekaligus memperkenalkan saya, barulah saya bersiap-siap menuju Irak, melalui Uni Soviet, nama waktu itu.

Tanggal 10 Desember 1992, saya meninggalkan Bandar Udara Soekarno-Hatta menuju Moskow, ibu kota Uni Soviet (sekarang Rusia). Setelah menempuh perjalanan dengan pesawat Aeroflot selama 13 jam dari Jakarta, saya tiba di Moskow. Di bandara, saya dijemput oleh koresponden Harian Merdeka di Uni Soviet, Svet Zakharov. Ia lalu membawa saya ke kediamannya dan memang selama tiga malam saya pergunakan waktu untuk beristirahat dan berkenalan dengan keluarga Svet Zakharov.

Saya berasumsi, nanti setelah saya dari Irak, barulah saya berkeliling di kota Moskow. Bagaimana pun, memang rute perjalanan saya yang sudah diatur, adalah dari Jakarta, Uni Soviet, Jordania, Irak dan kembalinya dari Irak, kembali ke Jordania, Moskow, Jakarta.

Tentang pesawat Aeroflot ini, perwakilannya kemudian ditutup di Jakarta, karena Bakin yang dipimpin oleh Jenderal LB Moerdani menyatakan bahwa manajer perwakilan Perusahaan Penerbangan Aeroflot yang beroperasi di Indonesia, Alexander Paylovich Finenko (36 tahun) terlibat sebagai mata-mata.

Itulah pengalaman saya bersama B.M Diah, tokoh pers dan sekaligus tokoh pemuda yang menggerakkan pemuda dalam "Angkatan Baru '45." Kepeduliannya kepada Dunia Ketiga, pada waktu itu, Irak menyemangati dirinya untuk meminta saya langsung berangkat ke Irak. Ia akan mendengar langsung situasi di Irak sesungguhnya dari saya. Kenapa demikian?

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa informasi selalu didominir oleh negara-negara Barat.