Serba Serbi Mahasiswa Indonesia di Taiwan

Bai/Sumber : Hasil survey dan PPI Taiwan | Sabtu, 03 Februari 2018 - 06:39 WIB
Serba Serbi Mahasiswa Indonesia di Taiwan Salah satu kampus di Taiwan

TAIWAN (Wartamerdeka) - Taiwan merupakan salah satu negara tujuan belajar mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia. Taiwan memiliki sistem pendidikan yang cukup bagus serta fasilitas penelitian yang lengkap terutama bidang teknologi informasi dan industri elektronik .  

Selain itu, Pemerintah Taiwan juga memberikan perhatian khusus pada bidang pendidikan dan penelitian. Sehingga banyak mahasiswa Indonesia yang tertarik untuk belajar di Taiwan.

Sampai saat ini tercatat sekitar 3000 mahasiswa Indonesia sedang menempuh pendidikan di Taiwan, baik untuk program bachelor, master, PhD maupun untuk belajar Bahasa.

Dalam kunjungan wartamerdeka baru – baru ini ke Taiwan dan menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan salah satu mahasiswa Indonesia yang kuliah mengambil jurusan hospitality di Kaohsiung Taiwan bercerita, salah satu kendala mahasiswa Indonesia dalam proses belajar mengajar adalah bahasa.

Apalagi pada saat awal sampai di Taiwan, masih banyak mahasiswa Indonesia yang tidak bisa sama sekali bahasa Mandarin. Hal ini membuat sangat sulit untuk beradaptasi di lingkungan kampus apatah lagi di luar kampus.

Dari hasil survey yang dilakukan PPI Taiwan, sebanyak 40% responden mengaku proses belajar-mengajar dilakukan menggunakan Bahasa Inggris.

Sebagian 50% lainnya mengaku para dosennya mengajar menggunakan metode campuran Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Dan sebagian 10% pelajar dengan menggunakan Bahasa Mandarin, yang hanya meliputi sebagian besar program Undergraduate and sebagian kecil Master Program.

Biaya hidup kuliah di Taiwan bervariasi berdasarkan lokasi kampus dan tempat tinggal. Di kota besar seperti Taipei atau Taichung, biaya hidupnya relatif lebih tinggi. Sedangkan di kota kecil seperti Zhongli dan Tainan biaya hidup relatif lebih murah.

Sebagian besar mahasiswa Indonesia mendapatkan beasiswa untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari, yaitu dari Pemerintah Taiwan, kampus, DIKTI, Pemerintah Daerah di Indonesia, maupun dari Professor. Dan sebagian yang lain menggunakan uang pribadi atau orang tua.

Namun begitu, mahasiswa yang menerima beasiswa (yaitu beasiswa double degree UB dan beasiswa kampus) mengaku beasiswa yang diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karenanya, mereka harus berjuang dengan bekerja paruh waktu ( part time ) untuk memenuhi biaya hidup di Taiwan.

Ada juga beberapa mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan lab, mendapatkan tambahan dari professor sehingga tidak perlu bekerja di luar kampus.

Namun, mahasiswa yang kerja paruh waktu pun juga mengalami kendala bahasa sehingga peluang untuk kerja paruh waktu menjadi sangat terbatas.

Mahasiswa Indonesia di Taiwan sebagian besar tinggal di dormitory kampus dan ada juga yang tinggal di luar kampus, seperti tinggal di kost atau rumah keluarga. Mahasiswa yang tinggal di kost disebabkan kesulitan mendapatkan dormitory kampus yang kapasitasnya terbatas.

Selain itu, kesulitan lain didapatkan bagi mahasiswa Indonesia yang muslim adalah dalam beribadah karena tidak terdapat tempat ibadah di sekitar kampus serta makanan halal juga menjadi salah satu kendala dan juga beberapa pihak kampus melarang mahasiswa untuk memasak di dormitory.