Rahasia Kemajuan Pesat China di Bidang Iptek

Bai/berbagai sumber | Jumat, 02 Februari 2018 - 06:46 WIB
Rahasia Kemajuan Pesat China di Bidang Iptek

JAKARTA (wartamerdeka) – Republik Rakyat China tumbuh cepat menjadi negara superpower baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Institusi teratas dalam hal ilmj pengetahuan dan teknologi di China adalah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences), sebuah mesin pertumbuhan ilmiah yang terdiri dari ratusan lembaga regional dan mencakup dua universitas. Untuk memasukkannya ke dalam perspektif yang mudah dipahami orang Barat, prestasi Chinese Academy of Sciences mengalahkan Universitas Harvard.

Pemerintah China telah melakukan investasi dengan energi dan dana besar di bidang penelitian otak, ilmu genetik, data besar (big data), dan robot medis.

Tapi mungkin proyek ilmiah yang paling ambisius adalah program luar angkasa China. Teleskop radio terbesar di dunia baru-baru ini dibangun di Cina barat daya, dan hanya butuh waktu lima tahun untuk menyelesaikannya.

Teleskop radio ini sangat besar untuk mendengarkan beberapa sinyal terlemah dan samar dari jangkauan terjauh alam semesta. Mereka juga telah merencanakan sebuah misi ke sisi jauh di bulan pada 2018, dan berniat untuk mengirim wahana penjelajah ke planet Mars pada tahun 2020.

Dari benda terbesar di alam semesta sampai yang terkecil, China berencana membangun akselerator partikel yang lebih besar dari fasilitas CERN yang beroperasi di Eropa.

Menurut Kachur,  seorang pengamat dunia sains, China menghabiskan 40 miliar Dolar AS atau sekitar Rp532 triliun per tahun untuk penelitian ilmiah, lebih besar dari semua negara kecuali Amerika Serikat (data lain menyebutkan 60 miliar Dolar AS per tahun).

Tujuan China jelas, yakni melakukan ekspansi ekonomi dengan mengandalkan otak rakyat mereka. Semua investasi mereka menghasilkan apa yang disebut dengan “bumerang otak”.

Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 4.000 akademisi China telah kembali dari negara-negara Barat dengan membawa penawaran yang menguntungkan bagi tanah air mereka.

China dilaporkan memiliki 17 juta mahasiswa, mayoritas mengambil bidang sains dan teknik. Sedikit sekali yang mendalami bidang hukum dan sosial. Insinyur dan ilmuwan yang dihasilkan perguruan tinggi di China terus meningkat, dari 325 ribu per tahun, kini kabarnya telah mencapai angka 2 juta ilmuwan dan insinyur per tahun.

Saat ini, penekanan dalam laboratorium-laboratorium China diarahkan secara besar-besaran untuk mendukung inovasi para wirausahawan dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi namun murah.

Tidak heran saat Lenovo yang dikomandani para alumni Chinese Academy of Sciences, mengambil alih raksasa komputer dari Amerika Serikat, IBM. Jutaan komputer Lenovo berkualitas tinggi dengan harga setengah lebih murah dari yang ada selama ini, segera merebut pasar dunia.

Juga tak perlu terkejut ketika China mampu menciptakan processor lebih hebat dari Intel sehingga China mandiri menghasilkan produk MRI berkelas dunia. Semua itu lahir dari dapur riset Chinese Academy of Sciences.

China punya semacam Silicon Valley, yakni Laoshan di Kota Qingdao, kota di tepi pantai yang ditetapkan sebagai kawasan Industri High Tech, blue economy, dan riset pengembangan maritim. Disinilah berdiri berbagai industri yang melakukan inovasi di bidang IT.

Kawasan ini terhubung dengan lebih dari 100 kampus terbaik di China dan beberapa lembaga riset. Gaji seorang insinyur di Qingdao hanya sekitar 1/5 gaji insinyur di USA dan Eropa, tapi kualitas kerja mereka sama.

Maka mereka mengundang banyak perusahaan asing melakukan investasi inovasi produk dengan syarat menggandeng pengusaha lokal dan memanfaatkan insinyur China. Terjadilah sinergi SDM, pasar dan teknologi.

Kemajuan China saat ini adalah buah dari kebijakan negara itu menerapkan dua sistem, yakni negara komunis yang mengadopsi sistem kapitalisme. Juga tidak bisa dipisahkan dari semangat kaum terpelajar China yang merupakan komunitas elite.

Mereka yang terdidik S-1 hanya sekian permil dari total populasi China, namun kesempatan menjadi sarjana benar-benar dimanfaatkan untuk mengubah peradaban yang lebih baik bagi bangsanya.

Dari 1.000 orang terkaya di China, sebagian besar adalah entrepreneur pendatang baru dari kalangan kampus atau alumni Chinese Academy of Sciences. Mereka yang terpelajar punya kemauan untuk berwiraswasta, menjadi pahlawan bagi keluarga dan bangsanya.

Saat wartamerdeka berkunjung ke China pada akhir tahun 2017, Whatsapp, facebook, youtube, twitter, google tidak dapat digunakan kecuali dengan terlebih dahulu membeli aplikasi VPN (Virtual Private Network). China memproteksi produk dari luar dan mengimbanginya dengan menciptakan serta mengandalkan produk buatan dalam negeri yang tidak kalah canggihnya seperti Wechat umpamanya, salah satu layanan komunikasi yang selalu digunakan oleh rakyat china, selain layanan komunikasi wechat juga bisa digunakan untuk pembayaran non tunai dari kaki lima sampai mall terbesar sekalipun.

Semoga tentang perkembangan teknologi di China bukan hanya sekedar berita yang bisa dibaca namun dapat memicu semangat generasi muda bangsa Indonesia untuk tidak kalah bersaing dengan bangsa lain.

Rasa nasionalisme dan rasa cinta produk dalam negeri merupakan satu hal yang sangat menentukan kemajuan bangsa serta memberi semangat dan gairah generasi muda Indonesia untuk bisa lebih kreatif dan berinovasi.

“Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri China,  setelah pintar pulanglah ke Indonesia, bangunlah bangsa kita tercinta, dengan produk hasil karya anak bangsa”.