Museum Soesilo Soedarman Cilacap Berpotensi Sebagai Destinasi Wisata Sejarah Andalan

Alek Tarkum | Selasa, 23 Januari 2018 - 08:46 WIB
Museum Soesilo Soedarman Cilacap Berpotensi Sebagai Destinasi Wisata Sejarah Andalan

CILACAP (wartamerdeka) - Warta Merdeka Senin (22 /1/2018) mengunjungi Museum sejarah Soesilo Soedarman. Lokasi tempat menyimpan banyak sejarah kemiliteran tersebut ada di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Cilacap - Jateng.

Bangunan bersejarah berbentuk museum ini menyimpan peninggalan-peninggalan Jenderal TNI (Purn) Soesilo Soedarman semasa mengabdikan diri, baik sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat maupun saat bertugas di berbagai kementrian semasa pemerintahan Soeharto.

Di tempat ini banyak sekali koleksi sejarah Kemiliteran bangsa Indonesia yang terpampang dan terpajang.

Di halaman depan terpajang ; Panser Amphibi BRDM Batalyon Kaveleri TNI AD, Tank AMX 13 TNI AD, Tank Amphibi PT-76 TNI AL, Meriam Howitzer Kaliber 122 mm, Mortir berat 120 mm, senapan mesin kaliber 12,7 mm, Ranjau laut dan Terpedo kapal selam. Selain itu pesawat tempur taktis TNI AU OV -10F BRONCO dan Pesawat N-22 Nomad Patroli Maritim TNI AL tampak terpajang menarik. Serta masih banyak koleksi sejarah yang ada di Museum Soesilo Soedirman.

Selain itu ada pilihan lain saat berkunjung ke tempat tersebut yaitu area bermain anak dan kolam renang serta Perpustakaan yang menyuguhkan berbagai macam jenis dan judul buku.

Museum ini bisa menjadi destinasi wisata sejarah andalan bagi Kabupaten Cilacap. Apalagi jika mengingat bahwa di tempat tersimpan benda-benda koleksi yang bernilai sejarah tinggi. 

Menurut Darjito, selaku pengelola musium perjalanan kami semenjak lokasi ini dibangun Tahun 2000 dan diresmikan  oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir Jero Wacik pada Tahun 2007 dan ditetapkan sebagai museum ke 281 di Indonesia.

Darjito juga mengatakan di bulan Januari 2018  pengunjung  yang masuk ke Museum mencapai angka 2200 orang. "Padahal kami ditargetkan hanya 1200 orang perbulan. Ya Alhamdulillah bisa melebihi target dan kedepan bisa lebih banyak lagi yang mau berkunjung ke Museum ini,"  ujarnya. 

Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Soesilo Soedarman, (lahir di Cilacap, Jawa Tengah, 10 November 1928 – meninggal di Jakarta, 18 Desember 1997 pada umur 69 tahun) adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998) dan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

Soesilo Soedarman juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat yang berkedudukan di Washington DC dari 18 Februari 1986 hingga 11 April 1988.

Soesilo lahir sebagai anak kedua dari sebelas bersaudara pada 10 November 1928 di Maos, Cilacap dengan nama Soemarlan. Pada saat ia disapih, ia lalu dirawat oleh sang kakek yang lalu mengganti namanya dengan Soesilo. Kakek Soesilo adalah seorang juragan tanah (landlord) yang kaya. Maka dari itu saat kelahirannya, ia lalu mendapatkan beberapa hadiah dari sang kakek berupa tanah seluas 100 bau dan uang sejumlah 10 ribu gulden. Hadiah ini diberikan tak lain dan tak bukan bertujuan agar Soesilo kelak akhirnya dapat bersekolah menjadi seorang dokter. Kakek Soesilo sendiri memiliki dokter pribadi bernama Dokter Katung, di mana sang kakek kagum pada sosok dokter ini dan menginginkan sang cucu kelak juga bisa menjadi dokter. Namun, pada saat masa pendudukan Jepang, kakeknya ini terkena peraturan reformasi tanah (landreform), di mana akhirnya kakek Soesilo jatuh miskin.

Masa kecil Soesilo Soedarman diwarnai dengan kegemarannya menggembalakan kerbau milik kakeknya bersama beberapa teman sebayanya. Ia juga suka menangkapi belut di sawah dan membakarnya.

Selain itu, Soesilo kecil sangat gemar akan wayang, di mana ia sering menonton pertunjukan wayang semalam suntuk dan mengagumi tokoh Bima dan Hanoman.

Dia juga sering bermain dalang sendiri dengan wayang-wayang, suara gamelan dari mulut dan diterangi lampu petromaks. Kegemaran akan wayang ini melekat sepanjang hidupnya.

Pada masa kecilnya ini pula, karena lebih sering diasuh oleh kakeknya maka Soesilo memanggil kakeknya dengan sebutan Bapak sedangkan ayahnya sendiri dipanggil dengan sebutan kangmas (kakak). Hal ini lalu disadarinya saat Soesilo akan dikhitan, ia baru menyadari saat itu bahwa yang ia panggil kangmas adalah ayahnya sendiri.

Dari saat pengasuhan kakeknya tersebut, namanya hanya Soesilo saja. Hingga saat Soesilo menjadi duta besar di Amerika Serikat ada yang menanyakan nama keluarga Soesilo. Soesilo menjawab bahwa namanya hanyalah satu kata tersebut. Namun si penanya berkata "Kamu harusnya mempunyai nama lain" dan Soesilo lalu memberikan nama Soedarman yang merupakan nama ayahnya (Soedarman Wiryosoedarmo). Pada kesempatan berikutnya, Soesilo lalu dipanggil dengan nama Mr. Soedarman.

Soesilo Soedarman meninggal dunia pada tanggal 18 Desember 1997 dalam usia 69 tahun di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Jenazah Soesilo Soedarman dimakamkan di TMP Kalibata, Bertindak inspektur upacara Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Wiranto