Mengenang Djohan Effendi Tokoh Pluralisme Indonesia

Ar | Minggu, 14 Januari 2018 - 10:48 WIB
Mengenang Djohan Effendi Tokoh Pluralisme Indonesia

Oleh Dasman Djamaluddin

BARU  saja Djohan Effendi, nama yang tidak asing lagi di kalangan pemerhati dialog agama, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di mancanegara, atau kita sebut juga tokoh pluralisme, meninggalkan kita pada 17 November 2017 di Melbourne.

Djohan Effendi di kalangan pemikir Islam progresif, disejajarkan dengan Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Ahmad Wahid, juga di awal tahun 2018 ini, bukunya yang berjudul: "Djohan Effendi, Cerita para Sahabat," didiskusikan di Gedung Lembaga Ilmu Pengerahuan Indonesia (LIPI), Jakarta.

Buku yang dieditori Ahmad Nurcholish dan Frangky Tampubolon ini diterbitkan oleh Penerbit Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) tahun 2018. Terdiri dari 236 halaman.

Di halaman 11,  Hamzah Sahal, aktivis muda NU menulis, bahwa hubungan Djohan Effendi, Cak Nur dan Gus Dur, merupakan jalinan yang produktif dan mutualistik, bukan hanya sebagai jembatan yang mengurangi keregangan bagi komunitas Islam Modernis dan Islam Tradisional, tetapi juga bagi perdamaian umat beragama di Indonesia secara luas.

Dipertegas oleh Hamzah Sahal, Gus Dur menghormati dan mengakui kemumpunian kerja-kerja Djohan Effendi dan Cak Nur.

Denny JA, di halaman 35, membayangkan, jika saja sudah ada hadiah nobel di abad ke-11, sangatlah mungkin setiap tahun hadiah itu jatuh kepada ilmuwan dari dunia Islam. Pada abad-11 itu, Islam itu menjadi pusat peradaban, yang melahirkan ilmu pengetahuan baru. Kisah ini menurut Denny JA selalu diulang-ulang Djohan Effendi jika berbicara. 

Memang benar apa yang diungkapkan Djohan Effendi itu. Bacalah buku-buku seperti "Al-Kindi, tokoh filisofi muslim" dan buku "Teori Siklus Peradaban Perspektif Ibnu Khaldun." Di dalam buku tersebut diuraikan mengenai penemuan baru ilmuawan Islam di dunia pengetahuan. 

Lain lagi komentar Lukman Hakiem, mantan staf ahli M Natsir dan Wapres Hamzah Haz tentang Djohan Effendi di halaman  43, ia menuturkan bertemu Djohan Effendi di bus yang penuh penumpang berdiri berdesak-desakan. Bayangkan Djohan Effendi seorang pehabat eselon I di Kementerian Agama RI.

"Saya berdiri menyapa dan mempersilahkan senior yang saya hormati itu untuk duduk di kursi yang akan saya tinggalkan. Betapapun saya mendesaknya untuk duduk, Mas Djohan tetap menokak. Akhirnya kursi saya serahkan kepada orang lain. Saya memilih menemani Mas Djohan berdiri sampai Jakarta (Djohan Effendi sudah berdiri sejak naik bus, karena penuh, dari selepas Lido)," ujar Lukman Hakiem.

Tentang kaitan Djohan Effendi dan Asas Tunggal, ia berada dalam dilema, karena Djohan Effendi waktu itu sebagai penulis pidato Presiden Soeharto. 

"Dengan tetap pada sikapnya yang ramah, dan dengan gaya seorang kakak yang mengasihi adiknya, Mas Djohan berpesan agar saya tetap berpegang pada pendapat yang diyakini, tetap membuka ruang dialog dan berhati-hati. Untuk pesan yang terakhir itu, setengah berbisik, Mas Djohan berkata: Pemerintah masih sangat kuat," ujar Lukman Hakiem.