Air Mata Rindu Itu Menetes Perlahan

Ar | Sabtu, 13 Januari 2018 - 10:01 WIB
Air Mata Rindu Itu Menetes Perlahan

Oleh Dasman Djamaluddin

DALAM  beberapa pekan ke depan, kita akan menyaksikan Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan. Pun dalam waktu dekat, kita juga akan menyaksikan team Korea Utara tampil di wilayah tetangganya itu, Korea Selatan. Tetapi semuanya masih kita tunggu dan lihat, apakah hal itu akan benar-benar terjadi atau tidak.

Sejauh ini kedua negara yang bersaudara itu terpisah oleh garis pemisah, di mana di tengahnya berdiri bangunan sederhana  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang pasukan perdamainnya berperan menengahi dua bangsa Korea itu.

Foto yang saya ambil dari kantor berita asing ini adalah sebuah foto mengharukan ketika dua warga Korea bertemu di sebuah desa di Korea Utara pada 20 Oktober 2015. Ini merupakan pertemuan kedua mereka sejak Februari 2014. Sekitar 400 warga dari dua negara itu tidak mampu menahan rasa rindu  yang sudah lama dipisahkan oleh perang saudara, Perang Korea pada tanggal 25 Juni 1950.

Perang saudara yang mengerikan  dan melibatkan tiga juta orang serta menewaskan hampir dua juta orang tersebut sempat menghancurkan sistem pemerintahan yang dibangun. Pun memisahkan keluarga mereka. Perang Korea yang datangnya begitu cepat waktu itu menyebabkan mereka berpisah satu dengan yang lain. Mereka lari menyelamatkan diri. Setelah lama tidak bertemu dan usia mereka sudan 80 an dan 90 an, mereka bertemu lagi.

Keterlibatan pasukan Amerika Serikat yang mendukung Korea Selatan dan pasukan Uni Soviet (sekarang Rusia) masih berbekas hingga kini. Seandainya saja dua warga negara Korea ini tidak dipengaruhi ideologi yang berkembang hingga kini, di mana membelah negara ini menjadi dua bagian, blok Barat yang dipengaruhi Kapitalisme/Liberalisme dan Blok Timur, terutama RRC dan Rusia yang mengarah ke Sosialisme/ Marxisme/Leninisme, maka tidak mungkin Semenanjung Korea terbagi dua.

Meskipun perang itu telah lama usai sejak 27 Juli 1953, jadi berlangsung selama lebih kurang tiga tahun, rakyat Korea masih trauma.

Masa depan Korea ini tetap berada di antara harapan dan kecemasan. Akan halnya Jepang karena pernah menjajah Korea dari tahun 1910-1945, juga cemas jika Korea menjadi sebuah kekuatan nuklir dan kedua bangsa ini bersatu menjadi kekuatan besar. Itu yang ditakutkan Jepang. Percobaan nuklir Korea Utara baru-baru ini sempat mencemaskan Jepang.

Amerika Serikat yang sangat berperan mendukung Korea Selatan pun akhir-akhir ini cemas akan kemajuan senjata nuklir Korea Utara. Bahkan dalam pernyataanya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bersedia berunding dengan Korea Utara, asal tentang senjata nuklir.

Jadi persoalan mendasar yang dikuatirkan Amerika Serikat bagaimana persoalan nuklir Korea Utara yang semakin meningkat, juga masih tetap berusaha meredam pengaruh Rusia dan Republik Rakyat China (RRC) di kawasan Semenanjung Korea. 

Coba perhatikan peta Rusia dan RRC. Letak kedua negara sama-sama bersebelahan dengan Korea Utara. Peta Rusia, buntutnya yang di Vladisvostok sangat dekat dengan Korea Utara. RRC pun demikian. Bahkan bertetangga bersebelahan, di mana sebelah barat dan utaranya bersinggungan dengan Korea Utara. Sangat memungkinkan jika perang di Semenanjung Korea terjadi lagi, di mana tidak kita harapkan, perang ini lebih dahsyat dari perang di Suriah, di mana perlombaan senjata mutakhir terjadi.


Baca Juga