Wow, Lika-liku Aliran Dana e-KTP ke Setya Novanto Sangat Canggih

DANS/KUM | Kamis, 11 Januari 2018 - 22:26 WIB
Wow, Lika-liku Aliran Dana e-KTP ke Setya Novanto Sangat Canggih Sidang Setya Novanto

JAKARTA (wartamerdeka) - Aliran dana e-KTP dari luar negeri ke Stya Novanto, ternyata telah dirancang sedemikian rupa dan penuh lika-liku, sehingga sangat mirip dengan cara kerja mafia. Canggih, wow.

Dalam surat dakwaan Setya Novanto disebutkan, pemberian uang ke Setya Novanto disamarkan dengan cara mengirimkan invoice (surat tagihan) ke dua perusahaan. PT Biomorf Mauritius (anak PT Biomorf Lone, penyedia software e-KTP) mengirimkan invoice pembayaran software ke PT Quadra Solutions (perusahaan peserta tender e-KTP) secara dua tahap, dengan total pembayaran 7 juta dolar AS. Sehingga, transaksi uang seolah-olah adalah untuk pengeluaran perusahaan.

Uang tersebut lantas dikirim dan disebar ke rekening perusahaan rekan Setya Novanto, Made Oka Masagung di Singapura, yaitu Delta Energy PTE Ltd, Oem Investment Capital, juga melalui keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

Tim penuntut umum KPK-pun membeberkan skema aliran uang yang dikirim keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, ke beberapa perusahaan dan money changer di Singapura. Uang itu berasal dari PT Biomorf Mauritius, anak perusahaan PT Biomorf Lone milik Johannes Marliem.

"Sebenarnya kalau mau transaksi sederhana langsung saja, Biomorf langsung ke Indonesia bisa, tapi dia (Irvanto) enggak mau," ujar Irene kepada wartawan di sela-sela sidang pemeriksaan saksi untuk terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (11/01/2018).

Skema aliran danapun dihadirkan tim penuntut umum KPK di persidangan, yang menjelaskan bagaimana uang Irvanto itu dikirim ke beberapa money changer di Singapura. Uang itu berasal dari PT Biomorf Mauritius, perusahaan cangkang milik Johannes Marliem yang berada di negara Mauritius, salah satu negara surga pajak.

Awalnya, manager money changer PT Inti Valuta, Riswan, mengaku pernah membantu Irvanto untuk melakukan barter uang perusahaan Irvanto di Singapura sebesar 2,6 juta dolar AS. Irvanto menginginkan agar uang yang berada si Singapura itu, diterima dalam bentuk fisik (tunai) namun tetap dalam nominal dolar AS. 

Riswan lalu menghubungi rekannya sesama pemilik money changer, yaitu manager PT Berkah Langgeng Abadi, July Hira. July menyanggupi permintaan Riswan untuk membantu Irvanto. 

Setelah itu, July mencari money changer lainnya yang sedang membutuhkan mata uang dolar AS. July lalu menjual lagi ke perusahaan di Singapura yang sedang membutuhkan dolar AS. adapun beberapa perusahaan itu, antara lain Cosmic Enterprise, Sunshine Development, Golden Victory, Pasific Oleo Chemical, dan Kohler Asia Pasific. 

Setelah berhasil menjualnya seyara dengan 2,6 juta dolar AS, July langsung menyampaikan ke Irwan bahwa uang tersebut sudah tersedia dalam bentuk fisik (tunai). 

Riswan kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengambil langsung uang itu untuk disimpan sementara di kantornya. Dia langsung menghubungi Irvanto, mengabarkan bahwa uang 2,6 juta dolar itu, telah ada dalam wujud fisik. 

"Ini transaksi perbankan. July Hira punya izin remittance, Irvanto punya duit di Mauritius, Irvanto pingin tarik di Indonesia. Mereka (July dan Riswan) pedagang valas. Riswan butuh 2,6 juta dolar, July punya. 'Iwan (panggilan Riswan), lo transfer deh ke rekening gue harusnya, tapi July pingin duit yang ini mau dijual. Ada transaksi jual beli, jadi uang biomorf ditransfer ke berbagai perusahaan," kata Irene. 

Selain melalui money changer dan bebetapa perusahaan, Irvanto menghubungi rekannya di Singapura, Muda Ikhsan Harahap untuk menjadi penampung uang 'proyek e-KTP'. Di persidangan, Ikhsan mengaku mendapat tranferan uang dari Biomorf di sepanjang 2012 sebanyak 7 kali. 

Ikhsan mengatakan, dia hanya menerima arahan dari kakak Andi agustinus, Deddy Priyono, untuk menerima uang tersebut di rekeningnya. Ikhsan mengaku uang itu hanya 'sekadar lewat' di rekeningnya, lantaran seluruh uang itu telah dia kirimkan langsung ke Irvanto dan seseorang yang dia sebit bermama 'Agung'.  Belakangan, Irvanto baru mengetahui, orang tersebut adalah Made Oka Masagung. 

"Waktu uang pas uang sudah masuk, di bukti transfer ada berita keterangan dari Biomorf, lalu ada tulisannya development e-KTP," ujar Ikhsan saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. 

Berikut rincian uang yang diterima Ikhsan. 
1. 24 Februari 2012 sebesar 29.075 dolar AS
2. ‎12 Maret 2012 sebesar 699.873 dolar AS 
3. 23 Maret 2012 714 ribu dolar AS dan 148.000 dolar Singapura
4. Mei 2012 sebesar 299.273 dolar AS
5. ‎10 Agustus 2012 sebesar 99.040 dolar 
6. ‎12 September 2012 sebesar 49.893 dolar 
7. 11 Desember 2012 sebesar 350 ribu dolar AS dari seseorang bernama 'Agung'.

Anehnya, Setya Novanto mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya transaksi dari Mauritius sampai ke keponakannya.