Hasil Perundingan Dua Korea: Berhasil tetapi Tanpa Senyum

Ar | Kamis, 11 Januari 2018 - 08:35 WIB
Hasil Perundingan Dua Korea: Berhasil tetapi Tanpa Senyum

Oleh Dasman Djamaluddin

AKHIRNYA  pertemuan dua delegasi antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) berakhir. Terlihat dari foto AFP di atas, Ketua delegasi Korsel Cho Myung-gyun (kanan) berjabat tangan dengan Ketua delegasi Korut Ri Son-Gwon (kiri) di sebuah desa Panmunjom, wilayah gencatan senjata Korut.

Pertemuan kedua Korea ini disaksikan pemimpin kedua korea di negaranya masing-masingn yaitu Presiden Korsel Moon Jae-in dan Korut Kim Jong-un melalui CCTV di negaranya masing--masing. Di pertemuan tingkat tinggi pertama sejak 2015 itu, kedua negara diwakili masing-masing lima pejabat. Banyak yang mengatakan pertemuan berhasil, tetapi kalau saya lihat kedua pemimpin delegasi, di hasil perundingan masih memiliki ganjalan.

Ganjalan itu, keinginan untuk melakukan reuni kedua warga negara yang sebenarnya sebuah keluarga besar Korea tidak disetujui pihak Korut. Kedua, pihak Korut sepertinya kesal selalu di desak tentang masalah nuklir. Delegasi Korut malah memberi alasan, bukankah percobaan nuklir itu ditujukan ke Amerika Serikat, bukan ke negara tetangganya seperti Korsel. Di sini terlihat ada ganjalan dari hubungan itu.

Sebelum perundingan Presiden Korsel ingin bertemu pemimpin Korut. Kita lihat, apakah rencana itu akan dilaksanakan sebelum Olimpiade (Olahraga) Musim Dingin di Korsel atau sesudahnya. Pertanyaan kedua, apakah sanksi kepada Korut dihapus, sehingga Korut bebas mengikuti Olimpiade Olahraga Musim Dingin di Korsel bulan Februari 2018 nanti.

Masalah kedua Korea ini pelik. Malah AS akan mengadakan latihan militer bersama Korsel setelah Olimpiade. Jadi semua permasalahan kedua Korea, kita lihat menjelang Olimpiade Musim Dingin. Jika Korsel masih terus mendesak perundingan senjata nuklir, meski disepakati dalam perundingan baru-baru ini dan seolah-olah Korut didikte, berkemungkinan suhu ketegangan dua Korea bukan mereda, terapi meningkat.

Jauh sebelumnya untuk terjadinya perang sebagaimana Perang Korea pada 25 Juni 1950, berbagai pihak harus berhati-hati memutuskannya. Perlombaan senjata AS dan Rusia di Suriah dapat kita saksikan. Senjata super canggih diperlihatkan kedua negara adidaya. Apalagi RRC dan Rusia, pendukung Korut yang letaknya bersebelahan dengan Korut sudah pasti tidak membiarkan sekutunya, Korut berperang sendirian.