PKL Fashion Depan Mesjid Agung Tidak Mau Pindah, Kecuali Permintaan Mereka Dipenuhi

PKL Fashion Depan Mesjid Agung Tidak Mau Pindah, Kecuali Permintaan Mereka Dipenuhi

TASIKMALAYA(wartamerdeka.net) – Sejumlah PKL fashion tergabung dalam Perkumpulan Pedagang Tasikmalaya (PPT) yang biasa jualan setiap rabu di depan Mesjid Agung Kota Tasikmalaya,  ternyata belum semua pindah ke tempat baru.

Padahal sebelumnya sudah ada himbauan dari Satpol PP dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tasikmalaya,  supaya semua PKL tersebut segera pindah ke lokasi yang sudah ditentukan yakni ke Batu Andesit Taman kota.

Ketua PPT, Andika Lestari Sembiring mengatakan memang sudah ada beberapa pedagang yang sudah pindah tempat baru itu. Namun lokasi tersebut dinilai tidak bisa mengakomodir sejumlah pedagang dan lokasinya pun tidak strategis.

Sehingga pihaknya belum mau segera pindah ke tempat baru. Akhirnya Satpol PP dan Dishub datang dan menghimbau agar segera pindah pada Rabu depan mengikuti beberapa pedagang di lokasi baru tersebut.

“Tadi kami sudah komunikasi dengan sejumlah anggota. Kesimpulannya mereka sangat legowo, namun ada pers ya ratan,  di antaranya, pedagang mau pindah asal tempat baru itu lokasinya strategis. Kedua pedagang tidak mau merubah ukuran tenda menjadi 2×2.Karena selama ini pedagang itu mengunakan ukuran tenda 3×3,”ujarnya, Rabu (4/10/2017).

Andika menandaskan luas lokasi Batu Abdesit itu tidak bisa mengakomodir sekitar 300 PKL. Sehingga kalau dipaksakan juga kondisinya akan berhimpitan. Tentunya itu bisa berdampak kepada sejumlah pembeli tidak mau datang.

“Kami minta persyaratan ke lokasi stategis itu berkaitan dengan omzet pedagang. Kemudian juga terkait harus diubah ukuran tenda menjadi kecil. Tentunya pedagang harus merogoh kocek lagi membeli tenda yang baru. Apalagi harga tenda itu nilainya sangat mahal.Sehingga itu akan menjadi beban baru,”tuturnya.

Wanita asal Medan itu menjelaskan ada sejumlah pedagang yang sudah pindah ke lokasi baru tersebut. Kini kondisi omzetnya itu banyak yang zonk. Sangat berbeda ketika jualan di tempat lama,  omzet bisa rata-rata dari Rp 1 juta-Rp 3 juta.

Perlu diketahui, tidak semua pedagang itu jualan milik sendiri, namun juga ada yang mengambil dari orang lain. Sistemnya setoran seperti tukang parkir yang harus cepat terjual. Sehingga sirkulasi uang terus memutar.

“Apa salahnya cuma satu minggu sekali memakai jalan ini.Di saat ada kegiatan pengajian pada Rabu saja.Jadi minta ada kebijakan bisa berjualan seperti dulu.Kemacetan itu tidak hanya ada pedagang saat ada pengajian saja.Melainkan juga bisa terjadi pada kondisi yang lainnya. Apalagi PKL tidak jualan di trotoar sehingga tidak merampas hak pejalan kaki, “imbuhnya.

Ketika disinggung kalau sejumlah persyaratan itu tidak bisa di Penuhi,  kemudian Satpol PP mendesak supaya segera pindah,  pihaknya akan tetap berjualan meskipun harus menangung segala resikonya.(Ariska)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *