Kembali, Bupati Nelson Bagikan Bibit Limu Tutu

Kembali, Bupati Nelson Bagikan Bibit Limu Tutu

LIMBOTO (wartamerdeka.net) – Gerakan penanaman Pohon Suanggi (Sewanggi) atau lebih dikenal oleh masyarakat Gorontalo dengan nama Limu Tutu saat ini intens digalakkan Bupati Gorontalo Prof Dr Nelson Pomalingo.

Penanaman pohon ini dilakukan di sudut di  wilayah kecamatan Limboto. Gerakan penanaman pohon Limu Tutu  di Kecamatan Limboto sudah dilakukan semenjak pertengahan bulan Januari 2017 ketika Bupati Nelson mencanangkan Gerakan ini.

Gerakan penanaman Limu Tutu ini bukan sekedar seruan,   Pemerintah Kabupaten Gorontalo bahkan menyediakan bibit untuk diserahkan kepada masyarakat.

Senin (09/10), Bupati Gorontalo diketahui kembali  membagikan bibit Limu Tutu kepada tokoh adat kelurahan Kayubulan,  kecamatan Limboto.

“Saya sebenarnya memiliki semangat yang tinggi untuk mengukuhkan Limboto sebagai kawasan yang terdapat banyak tanaman “Limu Tutu” di setiap sudut kota Limboto sesuai legenda maupun asal mula penamaan Limutu atau Limboto,”  hngkap Bupati Nelson ditemui usai penyerahan bibit limu tutu tersebut.

Dengan begitu, Limu Tutu yang diabadikan menjadi nama Kecamatan Limutu atau Limboto, bukan hanya sekadar sebuah legenda tentang “Limu Tutu” pada zaman dulu, tetapi Limu Tutu benar-benar ada di tengah masyarakat. Bahkan ke depan, bila tanaman ini ada di setiap sudut kota Limboto, bukan hal yang tidak mungkin, Limu Tutu akan menjadi sebuah ikon sekaligus menjadi “brand imagenya” Limboto.

Membangun “brand image” bagi sebuah kota, termasuk sebuah produk, sangat penting dan menjadi syarat mutlak bagi melejitnya suatu daerah dan suatu produk di tengah-tengah persaingan yang ketat.

Memang membangun “brand image” bukan perkara mudah, tapi jika berhasil, maka apa yang diinginkan dan dicita-citakan akan tercapai.

Lebih lanjut Bupati Nelson mengatakan, itulah hakekat yang ingin saya Wujudkan.   Spirit pencanangan gerakan penanaman “Limu Tutu” sebenarnya sudah ada sejak dulu, karena didukung oleh asal muasal penamaan Limboto yang berawal dari legenda “Limututu” yang pada zaman dahulu kala, konon banyak ditemukan terapung di Danau Limboto.

Alkisah, Limututu dpercaya oleh sebagian kalangan leluhur Gorontalo, berasal dari kayangan yang dibawa oleh para bidadari ke Danau Limboto. Menurut cerita turun-temurun, pada zaman dulu, Danau Limboto memiliki air yang jernih (Molango) sehingga sering menjadi tempat pemandian para bidadari-bidadari cantik nan jelita.

Ketika mandi, para bidadari itu membawa “Limu Tutu” yang dipotong-potong kemudian direndam di hamparan Danau agar airnya memancarkan aroma yang harum. Karena terdapat banyak Limu Tutu, maka Danau beserta kawasan di sekitarnya diabadikan sebagai “Limutu”.

Selain itu, potongan Limu Tutu, beserta daunnya ditambah segenggam kapur di kalangan masyarakat Gorontalo, juga dimanfaatkan sebagai anti kuman atau anti bakteri yang mengandung zat antibiotik yang direndam dan diendapkan setelah menguras sumur. Apalagi pada zaman dulu belum dikenal yang namanya Air PAM atau air minum kemasan sehingga yang diandalkan oleh masyarakat untuk mendapatkan air minum yang higienis adalah potongan “Limu Tutu” yang direndam di dalam sumur. belum lagi manfaatnya untuk penyedap “Tilumiti, Woku maupun Dabu-dabu.

Itulah hebatnya orang tua kita dulu, meksi kebanyakan diantara mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi, namun mereka memiliki pengetahuan yang tinggi terhadap berbagai pengobatan, terapi dan bahkan hal-hal ghaib yang bagi masyarakat modern adalah sesuatu yang mustahil.

Dalam perkembangannya di dunia kesehatan dan kecantikan modern, perasan air lemon Suanggi atau “Limu Tutu” saat ini, digunakan sebagai salah satu bahan alami obat-obatan herbal bagi penyembuhan penyakit kulit dan penyakit lainnya, termasuk bagi kepentingan terapi kecantikan yang sangat dahsyat kegunaannya. Tidak mengherankan jika saat ini dan ke depan, permintaan terhadap komoditi ini sangat tinggi, tidak hanya buahnya saja, tetapi juga daunnya yang digunakan sebagai salah satu sumber penyedap berbagai jenis masakan.

Yang jelas, daun Limu Tutu beserta buahnya, ternyata memiliki multifungsi dan multiguna sehingga ke depan memiliki prospek yang sangat bagus, tidak hanya untuk kebutuhan bagi prosesi adat semata, tetapi juga menjadi bahan baku untuk obat-obatan herbal, bahan baku untuk industri kecantikan, sebagai bahan baku untuk kuliner dan bahkan menjadi salah satu bahan pengawetan ikan di pelabuhan-pelabuhan.

sl”Saya berharap, mudah-mudahan ke depan, setiap warga kecamatan Limboto dapat membudidayakan tanamaan Limu Tutu di setiaap pekarangannya atau di setiap lahan kosong. Dengan begitu, setiap orang yang memasuki kawasan limboto benar-benar melihat dan merasakan nuansa Limboto sebagai kotanya Limu Tutu sesuai legenda dan asal muasal penamaan kawasan ini sebagai Limutu atau Limboto.

Disamping itu, Limu tutu ini ke depan bukan hal yang tidak mungkin dapat menjadi salah satu komoditi yang menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat yang cukup potensial. (Irfan/hms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *